"Oke. Untuk kali ini aku memang nggak boleh hamil dulu, agar keguguran nggak terulang untuk ketiga kalinya, Mas." "Mas ngerti. Jangan khawatir. Setelah empat bulan dan lepas kontrasepsi, kita pasti langsung bisa punya anak. Bibit kita kualitas super premium, Sayang." Puspa menutup mulutnya agar tawanya tidak pecah keluar. Bram ternyata bisa juga se-absurd ini. ***L*** Di awal pagi, Dikri mengetuk pintu kamar adiknya. Cukup lama menunggu, pintu baru terkuak perlahan. Wajah Denik begitu kusut. Matanya sembab dan mata pandanya sangat kentara. Tampaknya dia memang tidak cukup tidur selama berhari-hari. Denik kembali duduk di tepi pembaringan, sedangkan Dikri yang sudah berpakaian rapi duduk di kursi meja rias. "Keputusanmu bagaimana?" "Aku takut, tapi aku juga bingung. Kalau mempertah