"Bukankah selama ini aku juga selalu pamit." "Tidak selalu. Ada satu waktu kamu pergi begitu saja dari rumah." "Itu karena aku minggat, Mas," jawab Puspa kemudian tertawa. Bram tertular tawa itu. Hingga tubuh mereka terguncang bersamaan karena memang saling berdekapan. Hal yang seharusnya menjadi pengalaman buruk dan menyedihkan, kini menjadi candaan. Puspa tertawa sampai mengeluarkan air mata. Sungguh terpingkal-pingkal karena ucapannya sendiri. Momen pertama di mana mereka seolah tanpa sekat. Bisa sebebas itu mengekspresikan diri. Puspa begitu lepas. Satu bulan ini Puspa kembali ceria. Di rumah sibuk belajar memasak. Minggu kemarin salah seorang suruhan Pak Lurah mengantarkan mesin jahitnya ke rumah. Dan Puspa sibuk mencari baju-baju yang lepas jahitannya untuk dibenahi. Memasang ke