HidupAdalah Pilihan( Kla Project )

1180 Kata
Kami, lima orang lelaki , termasuk Iyan, naik ke lantai paling atas sebuah Penthouse di tengah kota Jakarta. Semua ajaran Iyan saat aku tiba di tempatnya,tergiang-giang di telingaku. “ Ingat Senyum. Ikutin aja perintah semua permintaan tante-tante itu. Jangan main kasar. Kalau mereka bilang kuat kamu baru boleh mendentumkan tubuhmu kuat untuk memuaskan mereka dan ingat jangan cerita kesusahanmu. Mereka mau bersenang-senang, bukan mau jadi pendengar kisah sedih. Ingat kita ini lelaki penghibur untuk menghibur kesepian mereka, mereka bukan Yayasan sosial, jadi tidak perlu bicara kesusahan kita. Layani aja mereka dengan baik dan kamu tidak akan menyesal. Hidupmu aku jamin membaik. Bukan hanya biaya rumah sakit yang tercover, kamu tidak perlu lagi ngamen dan tinggal di kontrakan bocor harga 300 ribu” Ting… bunyi lift terdengar dan pintu terbuka di lantai 30 sebuah penthouse mewah di tengah kota Jakarta. Bau aromaterapi mahal langsung menusuk hidungku begitu pintu lift terbuka. Aku berhenti melangkah, Iyan dan lainnya terus melangkah, aku mencoba meredakan debaran di dadaku yang bagaikan kuda pacu. Karpet tebal menuju kamar tempat aku akan kehilangan harga diriku membentang seperti jalan tanpa akhir. Lampu kristal menggantung di langit-langit sepanjang lorong memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengilap. Semuanya terlalu bersih. Terlalu berkilau Terlalu mewah dan itu semua terasa terlalu… BUKAN AKU. Tanganku tanpa sadar mengepal ketika aku berhenti di samping Iyan, menunggu pintu di buka. “Jangan keliatan kampungan,” suara Iyan terdengar pelan di sampingku. “Ingat, malam ini lu bukan pengamen jalanan. Malam ini lu lelaki penghibur” Aku menelan ludah. Kemeja putih bersih dan jaket yang diberikan Iyan untuk kupakai terasa asing di tubuhku. Terlalu pas. Sangat bersih. Sangat rapi seolah aku sedang memakai hidup orang lain, bukan hidupku. Kepalan tanganku semakin kuat ketika suara manja dari seorang wanita menjawab “Masuk,” Pintu besar di depan kami terbuka.Dan dunia penuh gemerlap itu langsung menelanku dan membuat mataku terbelalak Tawa perempuan memenuhi ruangan. Musik lembut mengalun. Gelas-gelas kristal beradu pelan. Aroma alkohol bercampur parfum mahal terasa memabukkan. Ada kue ulang tahun di dekat meja dan hiasan bertuliskan happy birthday di gantung di jendela yang memperlihatkan gemerlap kota Jakarta. Aku berdiri kaku di ambang pintu. Ada lima orang wanita menoleh melihat kami berlima yang berdiri berjejer bagaikan mannequin di etalase. Tatapan mereka bukan seperti melihat manusia. Lebih seperti melihat sesuatu yang bisa dipilih. “ Ini anggota baru ?” salah satu dari mereka, wanita dengan tubuh tinggi dan rambut ikal berkata sambil menjulurkan jari telunjuknya kepadaku . Jantungku berdegup keras. Iyan yang berdiri di sampingku menepuk bahuku pelan dan berbisik. “Relax. Senyum aja dan Nikmatin .” Nikmatin? Aku saat ini bahkan belum bisa bernapas dengan benar, bagaimana bisa aku nikmati . Nafasku masih tersendat, seperti ada batu yang menghimpit dadaku. Tapi dengan patuh, sku mengikuti saran Iyan - tersenyum pada wanita yang menunjukku tadi. Dia balas tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada lelaki lain yang tubuhnya paling gagah dan lelaki itu langsung ditariknya ke kamar di samping meja bar. Aku semakin takut, mataku aku alihkan ke sudut ruangan dekat kaca tinggi dan di sana aku melihat wanita lainnya. Dia duduk santai , sedikit terpisah dari yang lain. Gaun merahnya jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya tersisir rapi. Bibirnya merah, tapi tidak berlebihan. Tatapannya…tenang.Berbeda dari empat temannya yang lain.Tidak lapar.Tidak tergesa. Tapi justru itu yang membuatku tidak nyaman. Dia mengangkat gelasnya sedikit, tanpa melepas pandangannya dariku. “Kamu kemari ” katanya menunjukkan jarinya padaku . Sunyi sejenak. Aku tidak tahu dia bicara pada siapa. Sampai Iyan mendorong pelan punggungku. “ Ayo mendekat ke sana. Lu dipilih ” bisiknya. Dipilih. Seperti barang?? Aku berdebar, perlahan melangkah ragu mendekatinya Satu langkah . Dua langkah dan langkah kelima aku berada di depannya. Dia mendongak sedikit. Matanya menelusuri wajahku, perlahan. Turun ke leherku. Lalu ke dadaku. Seolah sedang memberi nilai pada tubuhku “Namamu ?” tanyanya singkat. “Beni,” jawabku pelan. Dia tersenyum tipis. “Ejaannya B -e -n -n y? ” Tanyanya. Aku menggeleng “ B-e-n-i , Bu” Dia tertawa “ Aku bukan ibumu “ Matanya mengerling “ Maaf “ kataku pelan sambil berdoa dalam hati, semoga dia tidak marah, aku memanggilnya Ibu. Kalau dia marah . dia pasti akan menolakku sebab kalau memang harus dipilih, aku lebih memilih dia daripada wanita lainnya yang terlihat sangat beringas, wanita ini lebih tenang dan memiliki sinar mata yang kelihatan baik. “Panggil aja aku Susi” Katanya memperkenalkan diri. Aku mengangguk kaku, dalam hatiku aku bertanya itu ntah nama aslinya atau nama palsu ? Dia tertawa . Suara tawanya lembut tapi entah kenapa membuat tengkukku merinding. “Kamu kelihatan takut.” Aku diam tak berani menjawab, tapi jujur, memang benar katanya. Aku sangat takut. Dia bangkit dari kursi tinggi yang didudukinya. Pelan. Anggun. Penuh kendali. Lalu berjalan mengelilingi tubuhku. Setiap langkahnya membuatku menafas nafas. Sampai akhirnya…dia berdiri tepat di depanku. Aku bisa mencium parfumnya sekarang. Tanganku mulai dingin. “Pertama kali?” tanyanya pelan. Aku membeku .Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Dia pasti sudah sangat berpengalaman, tingkahku yang kikuk, nafasku yang tidak teratur, pasti tampak lain dari empat lelaki lainnya yang tanpa ragu. Aku menganggukan kepala pelan. Lebih baik jujur daripada berbohong. Untuk sesaat, dia tidak bicara. Hanya menatapku. Lalu tangannya terangkat.Menyentuh perlahan dadaku dan membuka satu kancing kemejaku “ Begini lebih baik, kalau dikancing semua, kamu kek pegawai bank.” Aku langsung kaku. Tubuhku seperti kehilangan fungsi, dadaku berdebar kencang, ini pertama kalinya dalam hidupku seorang perempuan menyentuhku. Dia merasakannya kekakuanku. Ketakutanku. Tubuhku yang gemetar Senyumnya terukir di bibirnya yang tipis “Menarik,” bisiknya di telingaku Aku menelan ludah. Jantungku seperti mau meledak. “Suamiku orang penting ,” katanya tiba-tiba,dengan nada santai, seolah membicarakan cuaca. “Sibuk. Selalu sibuk. Tidak pernah ada untukku ” Aku tidak menjawab. Tidak tahu harus berkata apa,jadi aku memilih diam. “Orang-orang pikir hidupku sangat sempurna,” lanjutnya sambil memutar gelas di tangannya. “Padahal....... KOSONG.” Tatapannya berubah.aku melihat sesuatu di sana. Bukan sekadar keinginan. Tapi kesepian yang begitu dalam. .Dia menatapku lagi, tatapannya melembut “Temani aku malam ini,” katanya. Aku terdiam. Tidak punya pilihan, aku tidak boleh menolak .Bayangan Beno terlintas di otakku, hutangku ke Iyan dan rekening rumah sakit membuatku mengangguk meskipun ada sedikit keraguan di hatiku. Tapi aku tahu aku tak boleh menggeleng. “Iya,” kataku pelan. Dia tersenyum puas.Tangannya meraih lenganku. “Bagus,” bisiknya.Lalu dia mendekat ke telingaku.“Nanti aku ajarin apa yang kamu tidak bisa” Darahku seperti berhenti mengalir. Dan saat dia menarikku pergi dari ruangan itu, menuju kamar paling ujung, aku sempat menoleh ke belakang, seakan ingin mengucapkan selamat tinggal pada hidupku yang lama. Pada jalanan. Pada gitar reyotku. Pada diriku yang dulu. Tapi sebelum pintu kamar benar-benar menutup aku melihat Iyan yang tubuhnya bergerak perlahan di atas tubuh seorang wanita di sofa. Tubuh mereka menyatu, desahan dan dentuman tubuh beradu terdengar. Semua itu hal yang terasa biasa bagi Iyan tetapi bagiku masih terasa asing. Masih terasa salah. Aku menelan ludah. Berusaha berkompromi dengan hatiku karena aku tahu sebentar lagi apa yang Iyan lakukan akan aku lakukan bersama Susi. Bukan karena aku mau. Tapi karena aku tidak punya pilihan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN