Siapa yang Menciumku?

1017 Kata
Ciuman itu begitu intens, menyalurkan kepemilikan yang mutlak hingga seluruh tubuh Bening bergetar hebat. Napas Bening memburu, jantungnya berdegup seperti mau copot. Di tengah kegelapan total itu, dia tidak bisa melihat apa-apa. Sentuhan bibir yang panas, basah, dan menuntut itu seolah ingin mengklaim seluruh jiwa dan raganya dalam satu hentakan. Rasa pusing akibat sampanye yang tadi sempat menderanya kini lenyap, digantikan oleh sengatan adrenalin yang membakar habis akal sehatnya. Siapa pria yang baru saja merenggut ciumannya dengan begitu berani di tengah kegelapan ini? Calvin... atau Sam? Dan kesalahan apa yang akan menanti Bening setelah malam ini berakhir? Klik! Suara sakelar utama yang dinyalakan terdengar menggema. Hanya dalam hitungan detik setelah pagutan itu terlepas secara paksa, seluruh lampu kristal di aula utama kembali menyala, memuntahkan cahaya benderang yang menyilaukan mata. Pekikan kaget para tamu undangan perlahan mereda, digantikan oleh bisik-bisik lega. Namun bagi Bening, dunianya justru baru saja dilempar ke dalam badai kebingungan yang lebih pekat. Kalau saja ini bukan di pesta yang dia niatkan untuk mengincar Calvin, mungkin dia akan mencecar kedua pria ini, atau bahkan kalau perlu menamparnya! Tapi, sebagai wanita yang mengincar Calvin demi membalas dendam pada Gian—dan kini justru mendapati Samuel ikut terjerat dalam pesonanya—Bening tahu dia tidak boleh gegabah. Kemarahan hanya akan merusak rencana yang baru saja dia susun. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar di lututnya akibat stiletto-nya yang patah, lalu menatap kedua pria di hadapannya secara bergantian. Di sebelah kirinya, Sam berdiri dengan posisi yang teramat santai. Kemeja velvet navy miliknya sedikit berantakan di bagian kerah, namun pria itu justru mengulas sebuah senyuman manis. Itu adalah senyum tanpa beban, tipe senyuman yang biasa dilemparkan oleh seorang pria yang baru saja memenangkan sebuah permainan yang menyenangkan. Matanya yang berwarna cokelat gelap berkilat jenaka, menatap Bening seolah berkata, “Bagaimana? Menyenangkan, bukan?” Sementara di sebelah kanannya, Calvin Mahendra berdiri tegak bagai patung marmer yang kokoh. Setelan tuksedo hitamnya masih nampak terpotong sempurna tanpa cela sedikit pun. Wajahnya yang tegas tidak menampilkan riak apa pun. Pria itu membalas tatapan Bening dengan tatapan lurus, datar, dan benar-benar hampa emosi. Dinginnya netra Calvin malam itu bahkan sanggup membekukan atmosfer di sekitar mereka, membuatnya nampak mustahil sebagai pelaku dari ciuman penuh gairah yang baru saja membakar bibir Bening. Bening menolak untuk menyerah pada kebingungan. Instingnya yang tajam mendadak beralih fungsi menjadi insting detektif. Dia mencoba mencari clue—sebuah petunjuk fisik yang bisa membongkar kedok sang pelaku di depan matanya. Mata tajam Bening langsung tertuju pada satu titik krusial, bibir kedua pria itu. Ciuman sekasar dan sebasah tadi pasti meninggalkan jejak. Dia memicingkan mata, memeriksa sudut bibir Sam, lalu beralih ke bibir Calvin. Namun, jantung Bening serasa merosot ke lambung. Tidak ada. Tidak ada bekas lipstik merah di bibir keduanya. Bagaimana mungkin? Apakah sang pelaku sempat menghapusnya dengan kecepatan kilat di detik-detik sebelum lampu menyala? Atau... apakah salah satu dari mereka menggunakan saputangan di saku mereka? “Kenapa tampak bingung begitu?” tanya Sam. “Aku…..awh….” Bening mengaduh kesakitan karena kakinya yang tinggi sebelah, dengan senyum yang sangat manis, Samuel berlutut melepaskan kedua sepatu dari kaki Bening. Bening dibuat tidak berkutik, apakah pria kalangan atas semuanya seperti ini? pikirnya. Sebelum Bening sempat mencerna teka-teki itu lebih jauh, sebuah langkah kaki yang tergesa-gesa memecah ketegangan di antara mereka. "Bening?!" Gian berdiri di sana. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar melihat Bening berada begitu dekat dengan dua raksasa bisnis penguasa kota. Di samping Gian, Bella menggelayut manja, ikut menatap Bening dengan pandangan syok. Ego Gian seketika runtuh melihat asisten yang baru saja dia rendahkan justru berdiri sejajar dengan orang-orang yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh Gian sendiri. Panik dan ketakutan bahwa Bening akan merusak reputasi bisnisnya, Gian tiba-tiba melangkah maju. Tanpa diduga, pria itu langsung membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di hadapan Calvin dan Samuel. "Pak Calvin, Pak Samuel... saya benar-benar meminta maaf atas kecerobohan dan kelancangan karyawan saya ini," ucap Gian dengan suara bergetar, memosisikan Bening sebagai bawahan yang tidak tahu aturan. "Saya gagal mendidik dia hingga berani menyusup ke pesta eksklusif ini dan mengganggu kenyamanan Anda berdua." Bening terpaku. Rasa mual dan muak bergejolak di dadanya mendengar bagaimana Gian dengan tega membuang harga dirinya demi menyelamatkan muka di depan para investor. Belum sempat Bening memberikan jawaban atau pembelaan apa pun, Gian tiba-tiba menegakkan tubuh dan mencengkeram pergelangan tangan Bening dengan kasar. "Ikut aku pulang! Jangan bikin malu di sini!" desis Gian. Gian menyeret tubuh Bening menjauh dari tempat itu. Dengan kaki tanpa alas yang langsung bersentuhan dengan lantai marmer yang dingin, Bening kesulitan melangkah. Tubuhnya terhuyung-huyung saat Gian menariknya tanpa memedulikan rasa sakitnya. “Lepaskan, Gian! Lepas!” teriak Bening, mencoba menyentak tangan pria itu. Suara serak Bening seketika memecah keheningan aula, membuat puluhan pasang mata kaum elite kini berbalik menatap mereka. Drama domestik itu langsung menjadi tontonan gratis yang memicu bisik-bisik miring. "Berhenti!" Sebuah bentakan keras memotong jalur udara. Suara itu milik Samuel. Sam tidak lagi tersenyum manis, tatapan matanya menajam, mematikan, dan penuh ancaman yang sanggup membuat langkah Gian lumpuh seketika di tempat. Gian menegang, perlahan menoleh dengan tubuh gemetar. Calvin Mahendra melangkah dengan ritme yang tenang. Tanpa memedulikan tatapan ratusan pasang mata yang mengawasi, Calvin mendekati Bening. Dengan satu gerakan yang begitu protektif, dominan, dan tanpa meminta izin, Calvin menyelipkan lengan kekarnya di bawah lutut dan punggung Bening—lalu mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya. Bridal style. "Waaahhhhh..." Suara gemuruh kekaguman dan keterkejutan spontan lolos dari bibir para tamu undangan di aula mewah tersebut. Ruangan itu seketika dipenuhi kasak-kusuk yang menggelora. Seorang Calvin Mahendra—pria sedingin es yang terkenal anti tersentuh oleh wanita mana pun—kini menggendong seorang wanita tanpa alas kaki di depan umum. Gian membeku, menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi bingung, syok, dan ketakutan yang bercampur aduk. Bagaimana bisa didekap begitu erat oleh penguasa bisnis tertinggi? Bening yang berada di dalam dekapan d**a bidang Calvin hanya bisa menahan napas. Aroma kayu cendana yang mahal kembali menguar, persis seperti aroma saat lampu padam tadi. Namun, saat Bening mendongak menatap rahang tegas Calvin yang tetap datar tanpa emosi, dia melirik ke arah Sam yang kini menatap mereka dengan seringai misterius yang sulit diartikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN