"Gu-gue balik dulu ya, Sa. Ntar kalo ada waktu luang gue ke sini lagi. Gue ada bawa minyak gosok untuk lo. Tapi gue titip ke petugas karena harus diperiksa dulu," tanpa menunggu jawaban dari Keisha, Keira buru-buru beringsut dari tikar. Ia harus memburu waktu. Dhira dalam bahaya. "Ada apaan, Ra? Mbak Ani bilang apa? Kok lo tiba-tiba ketakutan gitu?" Keisha ikut berdiri. "Apa terjadi sesuatu sama ayah? Atau ibu?" Kecemasan kini membayangi raut wajah Keisha. Keisha sebaiknya tidak perlu tahu. Ia sedang sakit dan sudah punya banyak sekali masalah. "Nggak apa-apa," Keira menggelengkan kepalanya. "s**u Dhira habis. Gue cabut dulu." "Ya udah. Ehm, kalo lo sempet, sekali-sekali bawa Praja ke sini. Gue... gue... kangen. Satu hal lagi, gue harap lo bisa merahasiakan soal Pandu dan Praja. Gue

