Bab 5. Kabar buruk

497 Kata
Kecelakaan pesawat yang menjadi berita utama di televisi seolah membekukan seluruh ruangan Agatha. Reyna masih berada di seberang panggilan video, terperangkap dalam ketegangan yang sama. Ia melihat raut wajah Agatha yang pucat pasi, matanya yang tajam kini dipenuhi ketakutan. "Nabila," gumam Agatha, suaranya parau. Reyna tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa terdiam, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka. Tiba-tiba, Agatha memutus panggilan itu. Reyna mencoba meneleponnya kembali, tetapi tidak ada jawaban. Kekhawatiran mulai merayap di hatinya. Agatha menyalakan mesin mobilnya dan bergegas menuju bandara, hatinya berdebar tak karuan. Di sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi dengan Nabila, tunangannya yang seharusnya berada di pesawat itu. Ia mengutuk dirinya sendiri karena mengijinkan Nabila pergi. Ini semua salahnya. Jika sesuatu terjadi pada Nabila, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Sesampainya di bandara, Agatha melihat kerumunan orang yang panik. Tim darurat sudah bersiap siaga. Agatha mendekati salah satu petugas informasi dan menanyakan daftar penumpang pesawat dengan nomor penerbangan 456. Dengan tangan gemetar, ia menerima selembar kertas itu. Matanya menyapu deretan nama, mencari nama Nabila. "Nabila Maharani... Nabila Maharani..." gumamnya. Ia tidak menemukannya. Ada perasaan lega yang luar biasa saat Agatha melihat namanya tidak terdaftar di antara korban. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding bandara, menghela napas panjang. Nabila selamat. Tapi di mana dia? Pertanyaan itu berputar di kepalanya, diiringi perasaan campur aduk. Perasaan bersalah, cemas, dan lega bercampur jadi satu, membuat pikirannya kacau balau. Di tengah kegentingan itu, ada satu sisi dirinya yang tidak bisa ia ajak kompromi. Entah karena stres atau alasan lain, hasratnya memberontak. Belalai gajahnya memberontak, menuntut untuk ditenangkan. Ia membelokkan mobilnya, mengarah ke sebuah hotel yang sepi, lalu menghubungi dua wanita "koleksi"nya. Di kamar hotel yang mewah, Agatha duduk di sofa, memijit pelipisnya. Di samping kanan dan kirinya, seorang wanita muda dengan gaun mini menatapnya dengan pandangan menggoda. "Kamu kenapa, sih, Sayang? Dari tadi murung terus," kata salah satu wanita itu, mencoba mendekat. "Lakukan saja tugasmu," jawab Agatha dingin. Ia memejamkan mata, berusaha menghalau bayangan Nabila yang terus menghantuinya. Wanita itu menurut, perlahan berjongkok dan membuka g-string-nya. Tiba-tiba, terdengar suara gedoran keras dari pintu. "Ck, mengganggu saja!" gerutu Agatha, kesal. Ia mengisyaratkan wanita satunya untuk membukakan pintu dengan gerakan mata. Wanita itu membuka pintu setengah, memperlihatkan seorang wanita lain dengan mata berkaca-kaca. "Di mana Agatha?" tanyanya, suaranya bergetar. Belum sempat dijawab, Nabila mendorong pintu dengan paksa. Ia sangat terkejut melihat Agatha duduk menyandar dengan mata terpejam, dan wanita lain yang berada dalam posisi memalukan. Nabila melangkah mendekat, menarik kerah baju Agatha agar bangkit dari kursinya. Agatha terlonjak, belum siap dengan keterkejutannya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Plak.. "Gila kamu ya!" bentak Nabila. "Saat pesawat yang aku tumpangi dinyatakan jatuh, kamu malah bermain-main dengan wanita seperti ini?! Kamu sakit, Ga. Kita selesai!" Nabila menangis, lalu ia melepaskan cincin pertunangan dari jari manisnya. Ia melempar cincin itu ke lantai, lalu berbalik, meninggalkan Agatha yang membeku dalam keheningan. Dentingan cincin itu, yang menggelinding dan berhenti tepat di kakinya, terasa lebih keras dari tamparan yang baru saja ia terima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN