Agatha mencengkeram rahang Reyna, tatapannya intens dan serius. Ia mencondongkan tubuhnya, hendak mendaratkan bibirnya di bibir Reyna. Namun, saat hidungnya semakin dekat, aroma tidak sedap mengganggu indra penciumannya.
Agatha refleks mundur, wajahnya berkerut jijik.
"Ck, huek... Kamu makan apa, sih, Rey?" ucap Agatha, jarak di antara mereka kembali melebar.
"Jengkol," jawab Reyna santai, tersenyum puas.
"Astaga Rey, baunya Reyyyy!" Agatha bergidik, membayangkan aroma menusuk yang baru saja ia cium.
"Gimana, Pak? Enak bau jengkol?" Reyna tertawa kecil, lalu melenggang pergi dari ruangan itu.
Agatha menggelengkan kepalanya. Ia masih tidak habis pikir, wanita secantik Reyna bisa memiliki bau mulut seperti itu.
***
Pagi ini, mentari mulai kembali menampakkan wujudnya. Reyna sudah tiba di kantor lebih awal. Ia tidak ingin terlambat dan mendapatkan hukuman konyol lagi dari bosnya.
"Pagi, Pak," sapa Reyna, saat Agatha berjalan melewatinya.
Agatha hanya melenggang pergi, mengabaikan sapaan Reyna begitu saja.
"Kenapa dia?" gumam Reyna, merasa aneh melihat sikap dingin Agatha.
Saat jam makan siang tiba, Reyna memilih untuk makan bekal yang ia bawa sendiri di ruangannya. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Agatha hari ini. Selain irit bicara, tidak ada satu pun wanita seksi yang masuk ke ruangan bosnya.
Sesekali Reyna melirik ke ruangan Agatha. Ruangan itu tampak sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
"Jangan-jangan dia lagi main solo... ckckck," gumam Reyna, menahan tawa karena pikiran konyolnya sendiri.
"Apa yang kamu bilang?" Suara bariton yang dingin mengejutkan Reyna. Ternyata, Agatha sudah berdiri di belakangnya.
"H-hah? Sejak kapan Bapak di belakang saya?" tanya Reyna kaget.
"Sejak kamu mengata-ngatai saya," jawab Agatha datar.
Glek...
"Mati gue," gumam Reyna dalam hati.
"Itu apa?" tanya Agatha, melirik kotak bekal Reyna.
"Rendang jengkol. Bapak mau?" Reyna menyodorkan kotak bekalnya. Aroma rendang jengkol yang kuat langsung menusuk hidung mancung Agatha.
"Whssstt! Jauhin itu!" titah Agatha, menutup hidungnya.
Reyna hanya nyengir lebar. "Hehe."
"Ngomong-ngomong, Bapak ngapain berdiri di belakang saya tadi?" tanya Reyna sambil melanjutkan makannya.
"Saya tadinya mau mengajakmu makan siang. Tapi, melihat kamu asyik dengan makananmu, saya tunggu kamu selesai makan."
"Hehe, maaf, Pak. Kalau makan jengkol, saya suka lupa sama sekitar karena terlalu asyik," sahut Reyna.
"Alasan. Dari tadi kamu melirik ke ruangan saya terus. Cepat habiskan makananmu. Setelah itu, temui saya di lobi," titah Agatha.
"Duh, kok Pak Agatha tahu? Pasti dia jadi geer sekarang," gumam Reyna dalam hati.
Setelah makan siang, Reyna berjalan menuju lobi dengan langkah mantap. Di sana, ia melihat Agatha duduk di sofa kulit yang mewah, sibuk membolak-balik dokumen.
"Reyna," sapa Agatha. "Kita harus menjelaskan kesalahpahaman ini kepada tunanganku."
Reyna terkejut. "Tunangan?"
"Ya. Aku ingin kamu berbohong dan mengatakan bahwa kondom yang kamu temukan kemarin adalah contoh produk baru untuk peluncuran terbaru perusahaan kita.
Jangan biarkan dia berpikir itu milik pribadiku," jelas Agatha dengan nada tenang.
Reyna merasa tidak nyaman. "Bapak nyuruh saya bohong? Nggak, ah. Saya nggak mau," tolaknya.
"Ayolah, Rey. Kali ini saja. Saya akan kasih kamu bonus kalau kamu mau bantu saya."
"Hmm... Boleh juga." Reyna tampak berpikir.
"Bagus. Ayo kita berangkat!" kata Agatha.
"Eh, tunggu dulu. Saya belum selesai bicara," ucap Reyna. "Saya punya satu syarat."
"Apa?"
"Saya ingin Bapak menemani saya makan malam. Dan saya yang akan menentukan tempatnya."
"Hanya itu? Oke," Agatha setuju dengan mudah.
Reyna tersenyum puas. Di dalam otaknya, ia sudah merencanakan cara untuk mengerjai bosnya.