Bab 28: Cincin di Tengah Kekacauan dan Ikrar Darah Kotor Agrata berdiri tegak, memegang kotak beludru itu di tengah kekacauan. Pecahan kaca dan bau kimia di lantai menjadi saksi bisu dari lamaran yang paling tidak romantis dan paling jujur di dunia. Ia telah membuka seluruh struktur dan kekacauan masa lalunya di hadapan Reyna. “Sekarang, Reyna,” ulang Agrata, suaranya tenang, membiarkan keheningan menelan segala kepalsuan. “Setelah kamu tahu siapa aku, setelah kamu tahu kekacauan yang kubawa. Apakah kamu masih mau menikahiku? Dengan segala darah kotor yang kita miliki?” Reyna menatap kotak itu. Cincin berlian itu bersinar, memantulkan cahaya lampu yang berkelip. Ia menatap wajah Agrata—wajah yang hyper, posesif, dan kini, rentan. Selama ini, ketakutannya adalah penghinaan; takut b

