Sesuai janji Mas Gala beberapa waktu lalu, hari pertama internship aku diantar ke puskermas. Dia juga berjanji akan menjemputku nanti sore. Semua kuiyakan saja daripada jawabanku membuatnya tersinggung. Aku sangat menghargai niat baiknya. Ya, sekalipun sebenarnya sangat tidak efisien. Aku rasa, tujuannya adalah dia hanya ingin partnerku praktek mengetahui kalau aku sudah menikah. Terlebih soal Nabil. Mas Gala agak sentimen dengannya. Bicara Nabil, ternyata dia anaknya memang santai dan sangat friendly. Sejauh ini aku tidak menangkap ke-modus-an kecuali saat pertama kali bertemu di parkiran. Semoga saja, kedepannya dia tidak aneh-aneh. “Ternyata puskesmasnya lumayan ramai, Ma. Enggak sebanding sama puskesmasku dulu.” “Ya memang. Makanya yang internship di sini empat orang.” “Hm, sepad

