“Jadi benar, kan, Dokter Adit yang waktu itu?” Dokter Adit mengangguk. Dia juga tersenyum. Baiklah, ternyata tebakanku memang benar. Dokter Adit adalah dokter yang menyusul Ayah ke halaman saat aku bertemu beliau pasca menebus obat. “Iya, itu saya.” “Pantas saja sejak awal enggak asing. Apalagi waktu teman saya bilang kalau Dokter deket dengan Ayah. Saya langsung mikir ke arah sana.” “Bedanya, waktu itu wajah saya lagi agak breakout.” “Apa iya, Dok? Saya malah enggak ngeuh. Mungkin karena orang lain sebenarnya enggak sepeduli itu sama penampilan kita asal enggak terlalu mencolok. Dan seingat saya, kayaknya breakout-nya enggak parah?” “Memang enggak. Tapi wajah saya mudah merah saat itu. Terlebih kalau kena matahari.” “Hm … paham, paham.” Aku manggut-manggut. Ngomong-ngomong, saat

