101. Ketidakjujuran

2209 Kata

“Terima kasih banyak, Mbak,” ujarku pada kasir indomaret yang baru saja memberi kembalian. Aku sendiri baru membeli snack kesukaan. Meski aku bukan tipe orang yang suka makan cemilan sering-sering, tetapi ada kalanya aku craving. Jadi, soal cemilan aku tetap ada stock di rumah. “Sama-sama, Kak.” Begitu semua beres, aku keluar dan sengaja duduk di kursi depan indomaret. Langit sedang turun hujan. Jalanan otomatis agak macet. Aku istirahat sejenak sembari melihat hiruk pikuk jalan raya di depan sana. Akhir-akhir ini Jogja sedang sering turun hujan. Jalan jadi lebih sulit dikondisikan. Cara mengendarai juga harus lebih hati-hati. Pasalnya, kasus kecelakaan makin meningkat. Macet pun ada di mana-mana. “Hm! Segernya!” Itu bukan suaraku. Begitu aku menoleh, aku dibuat terkejut. “Nabil?” “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN