Pulang dari rumah sakit, aku langsung meringkuk di kamarku. Perut dan badanku sakit semua, padahal haid belum datang. Kadang memang begini. Dan jujur, ini sangat menjengkelkan. Pasalnya, buat apa-apa rasanya tak nyaman. “Salma!” aku tersentak ketika tiba-tiba mendengar panggilan dari Mas Gala, disertai ketukan pintu yang cukup keras. “Kamu di dalam, Ma?” “I-iya, Mas. Aku di dalam.” “Aku buka, ya?” “Buka aja. Enggak aku kunci, kok.” Jeda tiga detik, Mas Gala datang dan langsung duduk di ranjang. Wajahnya tampak khawatir. “Biasanya habis maghrib kamu di ruang tengah. Ini enggak keluar sejak tadi. Kamu kenapa, Ma?” “Mau haid, kayaknya. Mulai enggak enak dari siang. Perutku sakit, badan pegal di mana-mana. Enggak mood ngapa-ngapain. Pengennya rebahan.” “Tapi belum haid?” “Belum. Harus

