PELINDUNG RAHASIA

2081 Kata

“Assalammu’alaikum,” ucap Bintang saat melangkah masuk ke unitnya. “Wa’alaikumussalam,” sahut mereka yang sejak sore tadi tiba. Orangtua Bintang beserta Jihan—adik bungsunya yang masih berusia sepuluh tahun. “Sudah makan belum, A?” tanya Hana. “Sudah sih, Bun. Tapi tadi di jalan Bintang beli bubur. Bunda ngga bilang kalau datang.” “Jihan mau,” sambar sang adik. “Disuapin Aa.” “Sama Ayah aja,” sahut Edo. “Nanti abis sama Jihan, Ayah. Aa ngga kebagian,” timpal Jihan. “Kalau disuapin sama Aa emangnya buburnya ngga dihabisin Jihan?” “Henteu, Ayah. Kan Aa mah nyicip-nyicip.” “Tetep aja Aa ngga kenyang atuh Jihan,” ujar Bintang. “Jihan makan aja nih.” “Buat Jihan semua?” “Hmm.” “Asiiik.” Bintang menghela napas panjang. “Itu smelling strip sama parfum-parfum Aa kok dimainin semua?” t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN