SENDIRI

2106 Kata

Arani menghela napas panjang bersamaan dengan pintu kamar itu terbuka. Saat Munik dan Yudi hendak melangkah masuk, Arani menoleh, menggeleng pelan. “Arani mau ngobrol sebentar sama Helia. Boleh, ya Mi, Pi?” Kedua orangtua mereka saling menatap, lalu tak jadi melangkah maju, justru menutup pintu kembali. Helia memalingkan wajah, menatap kosong ke jendela kaca. “Ada banyak hal yang kamu ngga ingat, Ya,” ujar Arani. “Dan dokter bilang—” Helia menoleh, sorot matanya begitu menusuk hati Arani. “Dokter bilang apa?” sentaknya. “Kalau aku ngga boleh tau alasan kenapa tunanganku berpindah hati ke kakakku?” Kalimat itu menggantung, tajam, dan menyakitkan untuk keduanya. Arani menatap adiknya, dan di mata itu, Helia melihat kilatan sesuatu—bukan kemenangan, bukan keangkuhan, melainkan luka. “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN