Aeron menatap sendu pada sosok berseragam biru yang terbaring tak sadarkan diri. Ia tahu, ini adalah waktunya Eudith melakukan operasi. Wanita itu terlihat sangat siap, namun tidak dengan Aeron. Sepanjang hari ini tugasnya hanyalah menggenggam jemari Eudith seakan memberikan kekuatan agar wanitanya itu mampu bertahan. Dielusnya perut Eudith yang membuncit dan bergumam, "Baik-baik ya, Sayang? Jaga Ibumu, Nak," bisiknya pelan seakan tak ada lagi tenaga yang tersisa untuk sekedar bertahan disisi Eudith selama operasi. Beberapa hari ini, Aeron bahkan tak berselera untuk memasukan asupan ke dalam tubuhnya. Ia hanya terus meminum air dan juga memakan makanan ringan yang dibelikan oleh orang tuanya. "Daddy menunggu kalian, kakakmu menunggu kalian, jadi, Daddy mohon bertahanlah, Nak," ia bergera

