Setelah mengintip kepergian Iwas melalui jendela kamar, Gayatri merebahkan tubuh ke atas ranjang. Tatapannya nyalang memandangi langit-langit kamar. Dirinya memang sengaja bersikap ketus pada Iwas. Dengan demikian ia berharap Iwas akan menjauhinya. Ia harus mengenyahkan rasa nyaman dan debar-debar halus di dadanya. Iwas itu milik Vira. Gayatri berkali-kali menggaungkan kalimat itu di dalam hati. Deringan suara ponsel terdengar dari dalam tasnya. Pasti ayahnya kembali menelepon. Gayatri menjulurkan tangan ke nakas di samping ranjang. Meraih tas dan mengeluarkan ponselnya. Gayatri seketika terduduk saat memindai nama sipemanggil. Ternyata Vira yang meneleponnya. "Hallo, Mbak Vira." Tergagap Gayatri mengangkat ponsel. Ada rasa bersalah di hatinya. "Hallo, Tri. Maaf mengganggu. Kamu sedang