Senyum Nicko mengembang, ketika di depan para pelayan, Nona Lucy tak ragu-ragu mencium pipinya. Wajah Nicko bersemu merah karena itu. Ia pikir, usahanya sudah cukup berhasil. Ia tahu, ia masih harus banyak belajar, tapi tentu saja ciuman pipi yang lembut dari Nona Lucy pasti adalah pertanda baik. Sayangnya, kebahagiaan Nicko tak berlangsung lama. Karena beberapa saat setelah itu, ia melihat ada sosok lain yang terlambat turun dari mobil. Itu adalah seorang lelaki yang tampak tidak asing. Setelah Nicko ingat-ingat lagi, lelaki itu adalah salah satu yang berfoto dengan pose panas bersama Nona Lucy. Begitu cepat Nona Lucy mampu membolak-balikkan perasaan seorang Nicko. Pada akhirnya, pemuda itu kembali menunduk.
“Pergilah ke kamar, Sayang. Aku masih ada urusan dengan Alfred.”
Ucapan Nona Lucy terdengar menyebalkan bagi Nicko. Ditambah lagi, Nicko bisa melihat betapa angkuhnya sosok bernama Alfred yang mengikuti Nona Lucy dari belakang itu. Memang, lelaki itu jauh lebih besar, lebih gagah, dan usianya lebih matang. Namun, seharusnya Nona Lucy tidak membiarkan masa lalunya kembali semudah itu. Urusan apa yang dimaksud? Apakah urusan bercinta? Nicko merasa resah. Bahkan ketika ia sudah sampai di kamar, ia tak bisa membendung rasa kesalnya. Ia melepaskan pakaian mahalnya, dan membantingnya ke lantai.
“Tidak berguna,” ucapnya.
Nicko mulai merenungkan segalanya. Ia mondar-mandir di kamarnya seperti setrikaan. Bayangan Alfred, lelaki yang lebih dewasa, lebih berotot, dan mungkin memiliki sejarah panjang dengan Nona Lucy, terus menari-nari di benaknya. Apa yang mereka sedang lakukan? Nicko amat penasaran.
“Urusan katanya?” gumam Nicko, suaranya parau oleh kemarahan. “Di jam segini? Di ruangan tertutup?”
Ia tidak bisa membiarkan hal tersebut. Jika ia hanya diam, ia akan selamanya menjadi anak manis yang hanya mendapat ciuman di pipi sebagai hadiah hiburan. Nicko membutuhkan kepastian, atau setidaknya, ia perlu tahu seberapa jauh Nona Lucy akan mengkhianati harapan yang baru saja ia bangun.
Dengan napas yang diatur sedemikian rupa, Nicko perlahan membuka pintu kamarnya. Ia tidak memakai sepatu, dan pakaiannya sudah diganti. Ia hanya mengenakan kaus tipis dan celana kain, berharap gesekan kakinya tak akan menimbulkan bunyi. Rumah besar itu biasanya sunyi di jam begini, tapi para pelayan senior sering kali masih berkeliaran untuk memastikan semuanya aman dan pintu-pintu sudah terkunci.
Nicko menyelinap ke arah sayap kanan bangunan, tempat ruang kerja pribadi Nona Lucy berada. Setiap kali ia mendengar langkah kaki atau denting peralatan perak dari kejauhan, ia merapat ke dinding, bersembunyi di balik bayang-bayang lukisan antik yang besar. Tepat di persimpangan lorong menuju taman, seorang pelayan pria muncul dengan nampan kosong. Nicko tersentak, jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Tuan Muda Nicko? Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya pelayan itu dengan dahinya yang berkerut karena curiga.
Nicko menelan ludah, mencoba memasang wajah sedamai mungkin meski tangannya gemetar di balik saku. “Ah begini, aku tidak bisa tidur. Kepalaku sakit, aku hanya ingin ke halaman depan untuk mencari udara segar. Tolong, jangan beritahu siapa-siapa, aku tidak ingin merepotkan.”
Pelayan itu menatapnya sejenak, lalu membungkuk hormat. “Tentu, Tuan. Tapi jangan terlalu lama, udara malam ini sangat dingin. Tidak baik untuk kesehatan.”
Setelah pelayan itu menghilang di balik tikungan lorong, Nicko mengembuskan napas panjang. Ia segera memutar arah. Bukan ke halaman depan, melainkan ke pintu kayu besar di ujung lorong yang sedikit tersembunyi. Nicko berdiri di depan pintu itu. Jantungnya berdegup kencang. Di sana, ia mendengar sayup-sayup suara tawa Alfred yang berat dan suara tawa Nona Lucy yang terdengar lebih lepas, tidak pernah ia mendengar Nona Lucy yang seperti itu.
Tanpa berpikir panjang, Nicko memutar knop pintu. Ia berekspektasi pintu itu mungkin saja terkunci rapat, tapi di luar dugaan, knop itu berputar dengan mudah. Apakah mereka begitu mabuk hingga lupa mengunci pintu? Atau apakah mereka merasa terlalu aman di rumah mereka sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Nicko seiring dengan pintu yang sudah terbuka sedikit, menciptakan celah yang cukup bagi Nicko untuk melihat ke dalam.
Tepat pada saat itu, aroma wine yang kuat dan parfum mahal Nona Lucy langsung menyengat indra penciumannya. Pemandangan di depannya membuat Nicko membeku. Ruangan itu hanya diterangi oleh temaram lampu meja dan cahaya perapian yang mulai mengecil. Di atas sofa beludru merah, Nona Lucy duduk bersandar dengan posisi yang sangat tidak biasa. Gaun malamnya yang anggun kini merosot dari bahu, menampakkan kulit bahunya yang putih pucat di bawah cahaya lampu. Bagian atasnya terbuka, memberikan kesan berantakan yang jelas-jelas menggoda.
Di sampingnya, Alfred duduk dengan santai. Jasnya entah ke mana, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Tangannya memegang gelas kristal berisi wine merah yang tersisa separuh. Ia tampak membisikkan sesuatu ke telinga Nona Lucy, yang kemudian ditanggapi dengan tawa kecil yang serak oleh wanita itu.
Melihat semua itu, jantung Nicko merasa seperti ditusuk ribuan jarum. Ia melihat bagaimana tangan Alfred dengan berani mengusap leher Nona Lucy, gerakan yang penuh dengan kemesraan yang tak mungkin dimiliki oleh sekadar rekan bisnis atau mantan kekasih. Nona Lucy juga tidak menolak. Ia justru memejamkan mata, kepalanya tersandar pada sandaran sofa, membiarkan Alfred melakukan apa pun yang ia mau.
“Kau selalu tahu cara membuatku tenang, Alfred,” gumam Nona Lucy. Suaranya terdengar tidak stabil, tanda bahwa alkohol telah menguasai kesadarannya.
“Dan kau selalu tahu bahwa aku tidak akan pernah benar-benar pergi, Nona,” balas Alfred dengan suara beratnya yang khas.
Nicko merasakan sakit yang merambat ke seluruh bagian kepalanya. Keberaniannya untuk masuk ke dalam ruangan itu, tiba-tiba hilang, berganti dengan rasa sesak. Ia menyadari satu hal bahwa di mata Nona Lucy, ia mungkin hanyalah sebuah mainan baru, atau sesuatu yang hanya dijadikan percobaan dalam semalam. Sementara Alfred? Alfred susah menjadi candu yang tak bisa Nona Lucy lepaskan.
Di dalam gejolak cemburu yang dirasakan oleh Nicko, Alfred tiba-tiba melirik ke arah pintu. Nicko tersentak, apakah ia ketahuan? Alfred tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan yang seolah berkata, "Kau lihat ini, Bocah? Kau tidak akan pernah bisa menyamaiku." Nicko segera menarik diri dan menutup pintu itu sepelan mungkin. Ia bersandar di balik pintu yang tertutup, merosot hingga terduduk di lantai lorong yang gelap. Air mata kemarahan hampir jatuh, tapi ia menahannya.
Nicko baru saja menyadari bahwa di rumah megah ini, ia mungkin hanyalah seorang tamu yang mencoba mencuri peran utama, sementara panggung itu sedari awal memang bukan miliknya.