Jalanan Surabaya masih padat saat Jaka dan Sheila melintas. Maklum saja karena ini masih pukul enam petang. Di atas motor, senyum Sheila terus saja terkembang. Terkadang dia akan menunduk saat teringat betapa manisnya Jaka padanya. Namun saat menyadari arah motor mereka, kening Sheila langsung berkerut. “Lho, Mas, ini kita mau ke mana?” Sheila berteriak di dekat telinga Jaka. “Aku ingin mengajakmu berbelanja. Kamu mau?” jawab Jaka tidak kalah keras. Maklum saja, mereka ‘kan sedang naik motor. Kalau tidak teriak, tidak akan terdengar. Suara mereka akan tertelan angin. “Belanja apa??” Sheila kembali berteriak. “Untuk lamaran besok,” jawab Jaka singkat. Sebenarnya dia ingin menjelaskan juga kalau dia ingin mengajak Sheila berbelanja mumpung masih ada beberapa hari lagi. Lalu barang-barang