Sekitar pukul setengah empat sore Nayaka sampai di rumah kediaman keluarga Tamara. Karangan bunga bela sungkawa dari sahabat ataupun kerabat masih tertata rapi di pinggir rumah tersebut. Bahkan beberapa tampak memenuhi halaman rumah tersebut. Dengan perasaan penuh harap Nayaka berjalan memasuki pintu gerbang yang terbuka lebar. Tampak beberapa orang masih berdatangan ke rumah ini untuk mengucapkan belasungkawa. Di depan bangunan yang difungsikan sebagai pos penjaga, Nayaka melihat pria paruh baya yang Nayaka ketahui adalah salah satu penjaga di rumah ini. Segera Nayaka mendekat ke arah pria tersebut. “Permisi, Pak,” sapa Nayaka kepada pria yang saat ini tengah berbincang dengan seorang pria yang juga bekerja di rumah kediaman keluarga Tamara ini. “Oh, Den Nayaka, kan, ya?” sapa pria

