Permintaan Gila

1177 Kata
Aku duduk di ruang tengah, sendirian, sambil menatap lurus ke depan. Dari dapur, samar-samar terdengar suara percakapan antara Awan dan Ibu mertuaku. Mereka tampak sibuk membahas persiapan pernikahan baru Awan. Sementara aku di sini, seperti tamu tak diundang dalam hidupku sendiri. Tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki menghampiriku. Kakak iparku, Rima, datang dengan senyum sinis. "Embun, kamu nggak bosan duduk-duduk terus di sini? Orang lain sibuk, kamu malah enak-enakan sendiri." Aku hanya tersenyum pahit, mencoba menahan segala rasa sakit yang terus menggerogoti hati. "Mau bantu apa, Mbak? Semuanya sudah diatur." Rima tertawa kecil, seolah-olah jawabanku adalah sebuah lelucon. "Bantu? Ah, enggak usah, deh. Kalau kamu bantu, bisa-bisa malah bikin berantakan. Lagipula, kamu memang sudah enggak punya urusan lagi, kan? Awan juga sudah ambil keputusan." Jantungku terasa sesak mendengar kata-katanya. "Mbak, aku masih istri Mas Awan." "Tapi sebentar lagi, kamu bukan satu-satunya. Kenyataannya begitu, kan?" Rima berkata dengan nada tajam. "Jadi, lebih baik terima saja dan jangan banyak mengeluh." Aku menunduk, menahan air mata yang ingin tumpah. Rasanya setiap kata dari mereka seperti pisau yang terus-menerus menusuk hatiku. Mungkin mereka benar. Mungkin aku harus menerima semua ini tanpa berbuat apa-apa. Namun... ada sisi dalam diriku yang terus memberontak. Tiba-tiba, Ibu mertuaku muncul di hadapanku. "Embun, jangan terlalu memikirkan perasaanmu sendiri. Ini semua untuk kebahagiaan Awan. Kamu kan juga ingin suamimu bahagia, bukan?" Aku mencoba untuk bicara dengan tenang, walaupun hatiku terasa hancur. "Tentu, Bu. Tapi... apakah ini satu-satunya jalan? Harus ada orang lain dalam pernikahan kami?" Ibu mertuaku menghela napas panjang, seolah-olah dia kelelahan menjelaskan hal yang seharusnya sudah kupahami. "Embun, kamu ini terlalu egois. Kami semua ingin ada keturunan dari Awan. Kamu harus memahami posisi kami juga." Aku terdiam, membiarkan kata-katanya meresap dalam hati yang sudah dipenuhi luka. Keinginan mereka semua seolah mengesampingkan keberadaanku. Seolah aku hanya menjadi pelengkap dalam hidup Awan yang bisa digantikan kapan saja. Rima kemudian berkata lagi, "Makanya, Embun, lebih baik kamu bersikap dewasa. Kalau memang Awan sudah memutuskan, kamu harus bisa mendukung, bukannya malah ngambek nggak jelas." Aku ingin sekali membalas, ingin menjelaskan bagaimana perasaanku, tapi rasanya tak ada gunanya. Mereka sudah menutup pintu pemahaman sejak awal. Tak lama kemudian, Awan keluar dari dapur sambil membawa telepon genggamnya. Dia tampak asyik berbicara dengan seseorang. Mungkin itu Nayla, calon istrinya. Hatiku makin remuk saat melihatnya tersenyum lembut. Senyuman yang jarang sekali kuterima dalam beberapa bulan terakhir. Aku berdiri dari tempat dudukku, mencoba mengendalikan emosi. "Mas... bisa kita bicara sebentar?" Mas Awan menatapku sejenak, lalu berkata ke telepon, "Aku telepon lagi nanti, ya." Dia mengakhiri panggilan. Namun ekspresinya tampak tidak terlalu senang. "Apa lagi, Embun?" Aku menggigit bibir, menahan amarah yang bercampur kesedihan. "Kenapa kamu nggak pernah menatap aku seperti itu lagi? Kenapa kamu bersikap begitu... berbeda padaku sekarang?" Awan menghela napas, jelas merasa terganggu dengan pertanyaanku. "Embun, aku sudah bilang, ini bukan soal perasaan. Ini soal keluarga, soal masa depan." "Masa depan?" tanyaku, hampir berbisik. "Dan aku di mana dalam rencana masa depanmu, Mas? Aku ini apa bagimu sekarang?" Dia menatapku sejenak, lalu menoleh ke arah lain. "Embun, aku nggak ingin memperpanjang masalah. Semua sudah jelas. Kamu harus terima ini." "Tapi aku juga punya perasaan, Mas," jawabku sambil berusaha menahan air mata. "Aku juga berhak merasa terluka. Bukannya aku ingin menghalangi keinginanmu. Tapi apa kamu pikir aku bisa bertahan melihatmu menikah lagi?" Awan menunduk, tampak tak mau menatap mataku. "Kamu harus belajar menerima, Embun. Ini sudah keputusan keluarga, dan aku hanya mengikuti." Jawabannya itu membuatku semakin merasa hampa. Aku bukan hanya merasa tersingkirkan, tapi juga merasa bahwa aku tidak lagi memiliki tempat di hatinya. Apakah semua kenangan kami begitu mudah dilupakan? Apakah aku hanya dianggap sebagai sosok yang gagal memenuhi harapannya? Sambil berusaha menahan diri untuk tidak menangis, aku berkata, "Kalau aku pergi dari rumah ini, apa kamu akan keberatan?" Mas Awan terkejut mendengar perkataanku, tapi hanya beberapa detik. "Embun, kamu itu istri sahku. Jangan membuat masalah jadi makin rumit." "Masalah? Jadi menurutmu ini hanya masalah?" Aku merasa semakin tak dipedulikan. "Mas, aku cuma ingin tahu. Kalau aku pergi, apa kamu akan mencariku?" Dia terdiam, dan keheningan itu seolah menjadi jawaban yang paling menyakitkan. Tak lama kemudian, Ibu mertuaku datang lagi dan memotong pembicaraan kami. "Embun, jangan menyusahkan Awan dengan emosi yang tidak perlu. Ini sudah menjadi takdir kalian berdua, terimalah dengan lapang dada." Aku tersenyum pahit, lalu mengangguk pelan. "Baik, Bu. Mungkin memang sudah waktunya aku menerima semua." Aku melangkah meninggalkan mereka berdua. Menahan air mata yang tak ingin kutumpahkan di depan mereka. Keluarga ini memang tidak pernah melihatku sebagai bagian dari mereka. Aku hanya seperti bayang-bayang dalam rumah ini, ada tapi tak pernah dianggap. Di kamar, aku duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kosong ke dinding. Aku mulai berpikir, mungkin sudah saatnya aku benar-benar melepaskan diri dari tempat ini. Dari kehidupan yang tak pernah menganggapku berharga. Tapi entah mengapa, ada bagian dari diriku yang masih terikat. Aku masih berharap, meskipun sangat kecil, bahwa Mas Awan akan berubah pikiran dan menginginkanku seperti dulu. Namun, di dalam hatiku yang terdalam, aku tahu kenyataan yang sebenarnya. Aku hanya berusaha menghibur diri sendiri, menutup luka yang kian membesar. Sambil menyeka air mata, aku berbisik pada diriku sendiri. "Sampai kapan aku akan bertahan di sini?" *** Aku terbangun dengan perasaan berat di kepala, dan mataku terasa bengkak. Semalam, aku terlalu banyak menangis. Perlahan aku duduk di tepi tempat tidur, memijat kelopak mataku yang masih terasa bengkak dan perih. Suasana rumah begitu sepi. Mungkin keluarga Mas Awan sudah pulang. Rumah mertua dan ipar-iparku memang tak jauh dari sini. Itulah sebabnya mereka sering bolak balik datang sesuka hati. Aku menghela napas, lalu melangkah keluar kamar, berharap bisa melihat mas Awan, tapi... kosong. Dia tidak ada di ruang tamu, bahkan di ruang kerja kecilnya. Ketika aku menuju dapur, harapanku pupus. Dapur juga kosong. Tak ada jejak kehadiran Mas Awan pagi ini. Sepertinya dia sudah berangkat kerja tanpa membangunkanku. Aku melirik jam dinding di dapur. Lalu terkejut melihat angkanya yang menunjukkan pukul sembilan pagi. "Astaga... sudah siang sekali," gumamku, menyesal kenapa aku bisa bangun setelat ini. Aku bergegas menuju kamar mandi, membasuh wajah, lalu mandi dengan cepat. Setelah selesai, aku mengikat rambutku asal-asalan dan kembali ke dapur dengan niat menyiapkan makanan, karena perutku mulai terasa lapar. Aku membuka kulkas dan melihat persediaan bahan makanan yang tersisa. Akhirnya aku memutuskan untuk menggoreng telur dan menanak nasi. Saat telur mulai matang di penggorengan, pikiranku melayang. Rasanya ada yang kosong di dalam hati. Tadi malam, aku menangis sejadi-jadinya, memikirkan semua yang telah berubah dalam hidupku. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi hari-hari yang akan datang. Apalagi sekarang, bahkan Mas Awan tak lagi peduli. Aku menghela napas panjang sambil menunggu telurnya matang. "Kenapa... kenapa semua terasa begitu berbeda sekarang?" bisikku pada diri sendiri, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang lagi. Tak lama kemudian, nasi matang, dan aku segera menyiapkan semuanya di atas piring. Duduk sendirian di meja makan dengan sepiring nasi dan telur membuatku merasa semakin kesepian. Kubisiki diriku sendiri, "Embun, kamu harus kuat. Kamu tidak boleh terus-terusan begini." Aku menggigit telur di piringku, mencoba menikmati sarapan ini meskipun ada rasa getir yang tak bisa kuabaikan. Rasanya... hambar, sama hambarnya seperti hari-hariku belakangan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN