Malam pun tiba, meja makan yang sangat besar sudah tertata rapi dengan beberapa makanan lezat. Himawan pun sudah menunggu anak-anaknya untuk makan malam bersama dengan nya, Karen pun datang dan duduk di samping Himawan.
"Naya sudah pulang?" Tanya Himawan.
Karen pun menjawab, "Sudah, mungkin sebentar lagi mereka akan turun dari kamarnya."
Tak lama Karen menjawab, sosok Naya dan suaminya pun sudah menuruni anak tangga lalu menghampiri Himawan yang sudah menunggunya di atas kursi utama meja makan tersebut.
"Adik mu mana?" Tanya Himawan.
Naya menatap Bani, Bani pun membalas tatapan Naya.
"Mm, mungkin Nara sedang di luar Dad." Jawab Naya, Himawan menganggukkan kepalanya. Dan sebenarnya, sebelum mereka memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Mereka sudah terlebih dahulu menghubungi Nara, mereka meminta Nara untuk segera pulang. Namun begitulah Nara, Ia enggan mengikuti acara makan malam yang di rencanakan oleh Daddy nya.
Dan semua itu karena sosok Karen yang kembali membuat kesal dirinya.
Himawan berlaku Pasrah, Ia tidak mau makan malam ini berakhir sia-sia hanya karena menunggu kedatangan anak bungsunya.
"Ya, sudah duduk lah." Titah Himawan dengan helaan nafas kasarnya.
Naya dan Bani pun duduk di tempat masing-masing, mereka juga segera memulai acara makan malam bersama itu. Makan malam bersama di atas meja makan memang selalu di haruskan jika Himawan berada di dalam rumah itu, menurut Himawan dia tidak memiliki waktu banyak bersama keluarga nya dan hanya di atas meja makan lah Himawan dapat merasa dekat dengan anggota keluarga nya.
"Bani, Bagaimana Nara di kampus?" Tanya Himawan pada Bani, Bani terlihat ragu. Entah apa yang harus Bani katakan kepada Ayah mertuanya, yang jelas Nara tidak memiliki Nilai yang cukup baik untuk Ia katakan pada Ayahnya.
"Aku mempercayai mu untuk semua murid di kampus, tidak hanya Nara. Jika aku bertanya mengenai Nara, mengapa kau terlihat ragu untuk menjawab nya." Protes Himawan itu membuat wajah Bani memerah, "Jawablah, kau tidak menjawab pun aku sudah tahu jawaban nya. Anak itu memang tidak tertarik dalam Mata kuliah manapun. Aku semakin ragu jika mempercayakan sebuah perusahaan padanya!" Sambung Himawan dengan raut wajah yang begitu kesal.
"Semester ini saya pastikan Nara akan mendapatkan Nilai yang bagus." Jawab Bani dengan singkat.
Karen pun bertanya, "Caranya?"
Mendengar kalimat pertanyaan yang Karen berikan, Bani merasa sangat kesal. Bani pun menjawab, "Ia tanggung jawab ku, Daddy sudah mempertanggung jawabkan nya pada ku. Dan maaf, Aku tidak bisa mengatakan bagaimana caranya."
"Dengan menukar Nilai Siswa? Apakah begitu?" Tanya Karen, Ia semakin kesal dengan sikap dan pertanyaan Karen. kalimat itu semakin membuat Nara semakin tidak baik di hadapan Himawan, Bani memutuskan untuk tidak menjawab nya dan sosok Himawan hanya tertegun saat mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Istri nya kepada menantunya itu.
"Suami ku selalu menasihati Nara, Daddy tenang ya. Urusan Sekolah Nara, Biar aku dan Bani yang mengaturnya." Timpal Naya sembari mengusap pelan punggung tangan Daddy nya. Entahlah, jika Naya sudah melakukan itu. Sosok Himawan selalu merasa lebih tenang, walaupun Naya mengatakan hal itu dengan sedikit memaksakan senyuman nya.
Himawan membalas usapan pada punggung tangan nya, Ia mengusap tangan anak sulungnya dan terlihat tersenyum kepadanya.
"Sudah menjadi tugas mu untuk menggantikan Mommy mu dalam mendidik Nara, Daddy percaya pada mu juga pada Bani." Sahutnya kembali.
Di Tempat berbeda, Nara terlihat baru saja selesai melakukan aktivitas kebugaran. Nara berjalan dengan pelan, Ia melihat isi pesan yang baru saja masuk.
"Pulanglah, tidurlah di rumah. Kak Naya mohon, Jangan membuat Daddy marah selalu pada mu. Kau ingat pesan Mommy kita. Ia mengatakan bahwa Ia sangat berharap jika Kamu dan aku merawat Daddy dengan baik saat Mommy tidak ada." Nara menghela nafasnya.
"Bukan tidak mau mengasihi Daddy, tetapi Aku membencinya karena wanita sialan itu!" Gumam Nara dengan raut wajah yang begitu kesal.
Tanpa menunggu lama, Ia pun memilih untuk segera pulang dari tempat kebugaran itu. Walaupun mungkin sudah terlambat untuk mengikuti makan malam bersama Daddy dan Ibu sambungnya. Ia akan tetap pulang, dan tidur di Mansion Wijaya sebagai anak baik untuk malam ini.
**
Di kediaman Seera, Seera terlihat mengupas buah mangga untuk Ibunya. seharian ini, Seera sangat merasa lelah karena sudah mencari sosok Ibunya itu.
"Seera... " Panggil Ibunya dengan pelan.
"Sebentar Ma, sebentar lagi selesai kok." Sahut Seera.
Seera menghampiri Ibunya itu sembari membawakan mangga kupas yang sudah Ia simpan di atas sebuah piring kecil.
"Ini Mangga nya Mam."
"Terimakasih Seera." Sahut Ibunya, Ia pun mulai memakan mangga yang baru saja Seera kupas dan potong. Ia begitu lahap. Dan bagi Seera, Ia cukup kenyang saat melihat Ibunya dengan lahap memakan buah mangga tersebut.
"Seera mau?" Tanya Ibunya, Ia menggelengkan kepala nya.
"Tidak Mam, buat mama saja." Jawab nya dengan seutas senyuman cantik di wajahnya, Ia berlalu meninggalkan Ibunya dan masuk kedalam kamarnya. Terdengar suara televisi menemani Ibunya, Ia duduk di atas kursi dimana meja belajarnya tersimpan. sebuah Bulan menerangi malam kelam nya, Air matanya pun menetes.
Sampai kapan Trauma itu menyelimuti batin Ibu nya, dan sampai kapan Ia akan menjadi Seera si pekerja keras yang tidak boleh merasakan rasa lelah.
Sebuah kejadian di masa lalu pun terlintas di dalam ingatan nya, Kejadian kelam itu tak henti memutar di dalam otak Seera. Gadis kecil berusia 12 Tahun yang baru saja merayakan hari jadinya, Ia berjalan dengan pelan menyusuri lorong di dalam Mansion Savier Eijas. Ia mendengar suara debit air dari dalam sebuah kamar mandi yang berada di dalam kamar kakaknya.
"Kakak... Kakak..." Panggil Seera kecil, Ia tidak mendapati sosok kakaknya berada di dalam kamar mandi tersebut. Namun kehadirannya kakaknya terendus olehnya, "Kakak, Ngapain di Balkon malam-malam?" Tanya Seera yang tidak tahu menahu permasalahan yang terjadi pada keluarga kecilnya.
Kakak nya yang bernama Raka itu tidak mau menoleh, Ia malah menaiki tembok balkon dengan menggunakan kursi kayu kecil milik Seera.
"Kakak, turunlah. Jangan bermain-main di situ." Ujar gadis manja itu, Ia begitu polos. Ia tidak tahu bahwa kakaknya berniat mengakhiri kehidupan nya, "Kakak, apakah kau tidak mendengar?" Tanya Seera yang berjalan perlahan untuk menghampiri kakaknya.
Namun dalam hitungan detik, Bruukkkk. Tubuh Raka sudah jatuh tepat di lantai paling bawah, Seera berteriak dan tidak ada satupun yang mendengar. Hingga Seera berlari dan menemui Ibunya yang sedang membereskan beberapa barang di kamarnya, "Mama, Kakak terjatuh." Hanya itu yang dapat Seera katakan saat itu. Yasemin pun berlari di susul oleh Mina yang pada saat itu masih bekerja dengan keluarga Eijas.
Mata Yasemin membelalak tak percaya bahwa kini anak sulungnya yang sangat Ia sayangi terkapar bersimbah darah dengan posisi menelungkup, kakinya serta lutut nya bergetar hebat.
"Ra Ka." Lirihnya memanggil anaknya itu, tubuhnya sangat lemah dan Ia terlihat ambruk. Seera menangis dan menyadari bahwa kakaknya sudah tiada, Mina pun membawa Seera untuk masuk kedalam sebuah ruangan. Ia juga mencoba menghubungi petugas kepolisian agar segera membantu mereka.
"Kakak kenapa bi Mina." Tanya Seera yang tak henti menangis dan memeluk tubuh Mina, Mina pun mencoba untuk menenangkan sosok Seera, Ia tak henti memeluk Seera dan mengatakan bahwa kakak nya akan baik-baik saja.
Ingatan itupun mulai memudar, Seera menangis tanpa mengeluarkan suara. Ia takut jika Ibunya mendengar dan mengetahui bahwa kejadian itupun masih saja menghantui sosok Seera.
"Kak, Seera Rindu. Seera rindu kakak." ungkap Seera, "Andai saja kakak tidak mengakhiri hidup kakak, mungkin saat ini kakak akan menjadi tempat Seera mengeluarkan keluh kesah Seera dan Mama? Mama tidak akan harus mendatangi sosok Psikiater. Kita tidak akan berurusan dengan kesehatan mental kita, Seera ingin memeluk kakak. Hanya kakak yang selalu mengerti keinginan Seera." Gumam Seera kembali dalam tangisan kecilnya.
Tak terasa tangisan itu membuat Seera yang lemah tertidur dengan membungkukkan tubuh nya keatas meja belajar miliknya, Yasemin menghampirinya. Ia melihat sisa air mata pada kelopak mata Seera yang kini terlihat terpejam, air mata Yasemin pun menetes.
"Maafkan Mama sayang." Ia membelai pipi halus milik anaknya, melihat Seera yang seperti itu, hatinya semakin hancur. Ia merasa sudah sangat merepotkan Anak bungsunya, "Mama berharap, apa yang terjadi pada kita dahulu. Tidak akan pernah terjadi pada keluarga baru mu kelak, kau akan menikah dengan Orang yang mencintai mu Seera. Dia akan menjaga mu, Dia akan mengasihi mu. Mama tidak akan lelah meminta itu kepada Tuhan." Ia mengecup pipi Seera, Ia pun membangunkan Seera dan meminta Seera untuk merebahkan dirinya di atas ranjang kecil miliknya.