“Uaarggrhhhaaghh!!” Mulut Ash yang terbuka, menelan begitu banyak air hingga paru-parunya terisi. Sedangkan tubuhnya yang padahal sudah mulai berotot dari pada di awal itu, terus terseret arus semakin dalam dan semakin dalam. Setiap inci yang Ash rasakan dari kulit sampai ke organ dalam hanya rasa sakit seolah seluruh badannya tengah tercabik-cabik. Maka, ketika napasnya sudah tidak mungkin berembus lagi dan saat cahaya matahari tidak sudah tak tampak lagi, muncul lah Schwarz dalam wujud bayangan yang kali ini amat sangat besar. “Kau! Arghh! Kenapa memanggilku di tempat seperti ini?” keluh makhluk bayangan hitam tersebut. Meski demikian, ia langsung menangkup tangan, menciptakan gelembung seukuran lebih besar sedikit dari kepala dan mengisinya dengan oksigen. “Kau belum boleh mati, das