“Jadi … seperti itulah.” Ash menutup ceritanya dengan tersenyum canggung. Ia menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Saat ini Ash sudah sadar dari pingsannya. Untung hanya satu jam saja. Pangeran ini pun pakaiannya sudah mulai robek-robek telah diganti dengan piyama tidur seadanya yang memang kebesaran. Stella bilang itu adalah pakaian milik mendiang ayahnya. “Wahh! Jadi Kakak bisa sihir angin?” “Jadi Kakak terbang tapi disambar petir dan jatuh di sini?” Ash agak malu mendengar itu. Tapi tidak salah kalau kedua bocah kembar ini menyimpulkan cerita Ash tadi jadi sesederhana itu berdasarkan pemahaman mereka. “Ryu! Rya! Sudah Kakak bilang untuk memanggil tamu kita ini Tuan Muda! Kalian jangan tidak sopan begitu!” “Baik, Kak!” “Anu… Tuan Muda, tolong maafkan, kedua adik saya. Mereka masih tu