Mobil Elard berhenti tepat di depan lobi utama kantor pengelola mall Kinlope. Aku menarik napas pelan sebelum membuka pintu. Gedung ini yang memiliki kaca tinggi, marmer mengilap, wajah-wajah yang selalu sigap itu adalah wilayahku. Tempat di mana namaku bukan sekadar nama, tapi jabatan, dan semua orang tahu itu. Aku turun lebih dulu. Langkahku terlatih, posturku otomatis tegak. Namun suara pintu mobil di belakangku ikut terbuka membuat aku menoleh. Elard ikut turun dengan tenang, masih tetap rapi, seolah ini bukan pertama kalinya dia berdiri di depan gedung yang setiap detailnya berada di bawah tanggung jawabku. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku datar. Dia mengancingkan jasnya perlahan. “Turun,” jawabnya singkat. “Tidak perlu,” kataku cepat. “Kau sudah bisa pergi. Aku bisa urus sisanya

