Terubuka

1847 Kata

Sejak aku memberanikan diri untuk menelpon duluan, aku gak pernah lagi menghubunginya. Toh, dia juga gak mencoba untuk menghubungi kembali. Buat apa kan? Hanya makan hati saja. Meski hati kecilku merasa sakit dan terluka, tapi aku gak mau terus berlarut dalam kesedihan. Aku memilih untuk lebih fokus ke kampusku. Lagi pula, banyak hal yang harus aku kerjakan. Berlama-lama dalam keterpurukan bukan hal yang baik. Mama dan papa bisa curiga. Aku gak mau mereka sedih dan kecewa. Kalaupun keduanya bertanya tentang kabar Pak Heri, maka aku selalu bilang bahwa Pak Heri baik-baik saja. Ia hanya sedang sibuk dengan bisnisnya. Mama dan papa juga gak nanya lagi kenapa aku gak mau pulang ke rumah Pak Heri. Mungkin mereka faham, tinggal di sana membuatku bosan. Pak Heri juga lagi gak ada. Masa iya aku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN