"Kok Anda malah bertanya saya kenapa? Harusnya saya bertanya. Sebenernya Anda kenapa?" Aku balik bertanya. Kali ini aku menghindar dari ciuman Pak Heri. "Put, aku benar-benar tidak mengerti kalau kamu gak ngasih tahu," jawab Pak Heri. Ia terlihat frustasi. "Harus ya saya ngasih tahu?" tanyaku dengan nada menyindir. "Put, aku bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu," jawabnya lagi. Aku mendengus, "Baik. Sekarang coba Anda pikirkan, apa yang Anda rasakan saat Anda melihat pasangan Anda memeluk orang lain di depan mata kepala Anda sendiri?" Pak Heri terdiam. Lalu terdengar ia menghela nafas panjang, "Ah. Aku tahu. Karena Fitri?" Aku tidak menjawab. "Put, kemarin itu aku gak tega sama dia. Lagi pula bukan aku yang memeluk dia, kamu lihat sendiri kan?" "Tapi Pak Heri gak nolak, hei!"

