Kedua netra Axel memicing, dengan cahaya dari luar membantunya melihat ke dalam gudang yang gelap. Dia melihat ada pergerakan di sana. Seseorang sedang duduk meringkuk memeluk kedua lututnya sendiri. Axel melangkah masuk, aroma lembab bercampur pengap membuat Axel terbatuk beberapa kali. Dia terus mendekati seseorang yang sedang duduk meringkuk di sana, menyembunyikan wajah di kedua lutut. Itu bukan Lilian, pikir Axel. “Ja—jangan! Jangan sakiti aku!” Suaranya bergetar. Axel terkesiap. Itu suara seorang anak remaja, laki-laki. Jangan-jangan dia adalah …. “Apa kamu Yoga?” Yoga mengangkat wajahnya, mendongak. Dia memperhatikan Axel yang berjalan semakin mendekat dan kini berjongkok di sampingnya. “Tenang saja, jangan takut, saya Axel dan saya di pihakmu. Wina sudah selamat, saya sedang

