Axel geleng-geleng kepala, lalu perlahan mengurai pelukan. Dia memegang kedua bahu Callista hingga bisa dengan jelas melihat wajah cantiknya yang memberengut. “Dasar anak kecil! Kerja ya capek. Namanya juga imbalannya uang dan karir masa depan. Kalau nggak mau capek, bisa sih, tapi imbalannya tumbler, mau?” Axel menjawil hidung mancung Callista dengan gemas. Gadis itu mencibir. “Hemm ya kali kerja imbalannya cuma tumbler sih! Nggak mau lah!” “Nahh! Makanya kamu harus rajin, belajar disiplin, jangan sedikit-sedikit ngeluh dong.” “Iya deh, iya. Yang penting jangan ingkar janji kamu, ya?!” “Duh! Apalagi sih, Cal?” “Hemm … tuh, kan. Belum apa-apa sudah pura-pura lupa. Ya janjimu mau ajak aku nonton di bioskop premium!” “Ah, ya ampun!” Axel menepuk jidatnya sendiri. Dia merasa tidak per

