Sejak hari itu, hidup Claudia berhenti bergerak maju. Ia masih bernapas, masih membuka mata setiap pagi, masih menelan makanan yang disodorkan padanya tetapi jiwanya tertinggal di ruang bersalin penjara, di detik ketika tangannya gemetar menandatangani selembar kertas yang merenggut anaknya dari hidupnya. Dulu, meskipun kehilangan segalanya, dikhianati dengan begitu kejam oleh orang - orang yang disayanginya, Claudia tetap bertahan hidup demi satu alasan: anaknya. Tapi.....Sekarang alasan itu telah diambil. Bukan dicabut perlahan melainkan direnggut, tanpa belas kasihan, di saat dia berada di titik paling rendah Hari-harinya berubah menjadi siklus neraka yang sunyi. Bangun. Menangis Makan.Menangis.Tidur. Menangis Dan mengulanginya lagi, seperti itu setiap hari. Tidak ada kemarahan.

