Dominic duduk dengan gelisah di kursinya. Tangannya memegang pisau steak, tapi ia tidak benar-benar memotong daging di piringnya. Pandangannya melayang bukan pada Bella, bukan pada Adam, bahkan bukan pada ibunya melainkan pada satu titik di tengah ruangan. Meja itu. Meja yang sejak awal menjadi sumber kekacauan malam ini. Meja tempat seorang Dianne Gambino duduk sendirian, punggungnya tegak, kaki disilangkan anggun. Ia membuka menu dengan gerakan tenang, seolah dunia di sekelilingnya tidak berarti apa-apa. Gaun hitamnya sederhana, tanpa kilau berlebihan, namun justru itulah yang membuatnya mencolok. Tidak ada usaha untuk menarik perhatian dan justru karena itu, perhatian datang sendiri. Dominic tidak menyadari sejak kapan ia mulai memperhatikannya tanpa henti. Bella yang duduk di sisi

