Framed

1279 Kata
Suara kamera wartawan criminal berderak seperti rentetan tembakan. Cahaya blitz menyilaukan setiap mata. Ruang sidang yang harusnya sakral berubah menjadi panggung pemangsaan. Bisikan-bisikan tajam mengiris telinga Claudia saat ia melangkah masuk dengan borgol mengikat di pergelangan tangannya. Seragam tahanan oranye itu terasa terlalu terang untuk tubuhnya yang besar, terasa sangat menyesakkan saat kain kasar itu memeluk tubuh Claudia. Seragam itu seakan ingin menegaskan kalau Claudia bukan lagi pewaris terhormat, Kini dia hanyalah seorang terdakwa pembunuhan. Lampu-lampu pengadilan berpendar menyilaukan, menyambar mata Claudia yang masih sembab karena malam panjang di balik jeruji. Di sampingnya, Aidan berjalan tegap. Wajahnya tenang, tapi rahangnya terkunci. Ia tampak seperti orang yang sedang menggandeng seseorang yang bisa meledak kapan saja. “Claudia,” suaranya rendah, hati-hati, “di sidang awal ini… jangan berharap Bella akan berkata jujur. Aku sudah bicara dengannya. Dia tetap menyampaikan versi yang bertentangan dengan yang kamu katakan” Claudia menunduk. Suaranya pecah. “Kenapa… kenapa dia sampai hati mengkhianatiku? Kami bersahabat sejak SMA. Kenapa dia… melakukan ini padaku…?” Air mata jatuh, tapi ia memaksa dirinya tetap menatap ke depan dan saat itu matanya menangkap sosok yang duduk di kursi saksi. Sosok yang dulu pernah ia peluk saat terpuruk. Sosok yang ia biayai kuliahnya. Sosok yang ia anggap saudara sendiri. Bella. Rambutnya disisir rapi, makeup tipis membuatnya tampak seperti korban. Bibir pucatnya sedikit bergetar seolah trauma. Tapi di balik wajah rapuh itu… Claudia melihat sesuatu.Kilatan Kemenangan. Detak jantung Claudia menggedor dadanya. Jaksa berdiri. “Yang Mulia, kami memanggil saksi pertama: Bella Morrison.” Langkah Bella terdengar pelan tapi pasti. Setiap hentak tumitnya seperti menusuk tulang Claudia. Ia berdiri di mimbar saksi, menunduk, memainkan peran bagaikan malaikat yang baru saja kehilangan sayapnya. Jaksa mulai dengan suara tenang, terukur dan terkendali. “Nona Bella, tolong ceritakan apa yang terjadi pada hari kejadian.” Bella menunduk lebih dalam. Bahunya bergetar pelan. Lalu dengan suara pecah yang terdengar terlalu sempurna ia berkata: “Claudia… membunuh Roy.” Ruang sidang membeku. “Dia datang ke kantor membawa gunting dari rumah… dia teriak-teriak… dia marah, dia histeris.. Lalu dia memecahkan kaca… dan dia menyerang aku dan Roy yang saat itu sedang menyusun laporan akhir tahun.” Tangis Bella pecah. Air matanya jatuh dan dia terisak-isak sampai bahunya bergetar Claudia mencengkeram kursinya sampai buku jarinya memutih. “BOHONG!” Dia menjerit histeris Aidan mencengkeram bahu Claudia, gelengannya tegas penuh peringatan. Tatapannya tajam, memohon sekaligus memaksa. Ia tahu, jika Claudia berteriak dan histeris seperti sekarang, hakim tidak akan ragu menjatuhkan contempt of court dan satu kesalahan kecil itu bisa menghancurkan segalanya sebelum mereka bersaksi. Jaksa menenangkan Bella yang pura-pura menangis terisak-isak, ia menyentuh lengannya lembut. “Tenang… ambil napas.” Bella menyeka air mata, lalu melanjutkan dengan suara bergetar: “Aku dan Roy sedang menyusun laporan perusahaan… tiba-tiba Claudia menghantam aku dengan kursi. Aku tersungkur… dan dia… menusuk Roy…” Bisikan gemuruh pecah di seluruh ruangan seperti badai kecil. Aidan berdiri. “Keberatan, Yang Mulia. Kesaksian ini ditolak klien saya karena bertolak belakang dengan kejadian sebenarnya.” Hakim menatap tajam. “Ditolak. Biarkan saksi berbicara dulu.” Bella menatap hakim, lalu menghela napas panjang. Saat itu tatapannya berubah dan hanya Claudia yang mengenali sorot kelicikannya. “Claudia… marah karena laba perusahaan menurun. Roy tak sanggup lagi memberikan uang yang cukup untuknya. Untuk gaya hidupnya… untuk dokter dietnya… untuk gaya hidup ala sosialitanya” Bella menunduk sedih, atau pura-pura sedih. “Dia selalu ingin lebih… sementara ekonomi sedang sulit.” Claudia semakin erat menggenggam tangannya sendiri, dia tidak peduli buku-buku jarinya sudah berubah warna menjadi pucat bukan lagi merah. Ia tidak lagi berteriak. Suaranya runtuh menjadi bisikan rapuh, nyaris tak terdengar, “Aku tidak pernah meminta lebih banyak uang dari Roy,” katanya pelan. “Aku hanya mengambil apa yang memang milikku. Hakku sebagai pemilik perusahaan. Hak atas dividen.” Bibirnya bergetar tipis, hampir tak terlihat. “Dan Roy adalah suamiku. Menafkahiku bukan kemurahan hati… itu kewajiban.” Ia menelan ludah, tatapannya kosong dan suranya nyaris hilang “Tapi berapa pun yang dia berikan… aku selalu menerimanya.” Jaksa mengangkat setumpuk dokumen. “Ini bukti laporan bank, memang ada penurunan laba besar sehingga untuk memenuhi gaya hidup terdakwa, korban terpaksa meminjam uang dari rentenir dengan menggadaikan gedung dan perusahaan Calrson entreprise” Claudia terbelalak. “APA? Gedung warisan ayahku digadaikan ?!” Aidan memeriksa dokumen itu, dan wajahnya menegang. “Gedung itu milik klien saya. Roy tidak bisa menggadaikannya tanpa persetujuan dan tanda tangan Claudia.” Bella buru-buru menimpali, akting putus asanya terasa murahan namun efektif. “Roy menggadaikannya demi Claudia. Untuk memenuhi kebutuhannya. Dia bilang Claudia mengancam akan membunuhnya karena keputusan itu.” Claudia hampir berdiri. “AKU TIDAK PERNAH MENGANCAM ROY! Aku bahkan tidak tahu gedung itu digadaikan!” Bella menatapnya dengan mata berkaca-kaca palsu. “Aku… hanya menyampaikan apa yang Roy bilang padaku sebagai sekretarisnya.” Jaksa tersenyum puas. “Maka jelaslah motif pembunuhan ini karena terdakwa: marah sebab perusahaan warisan ayahnya digadaikan. Dan perusahaan itu dalam keadaan sekarat dan bangkrut.” Bangkrut. Kata itu menghantam Claudia seperti palu godam. Aidan maju. “Yang Mulia, perusahaan itu tidak bangkrut. Korban menggadaikannya tanpa sepengetahuan klien saya. Kami akan membuktikannya pada sidang berikutnya.” Hakim mengetuk palu. “Baiklah , karena hari ini masih sidang pertama untuk mendengarkan keterangan saksi, maka Sidang selanjutnya ditetapkan satu bulan lagi. Karena beratnya kasus yang dituduhkan maka terdakwa… ditahan hingga persidangan.” Dua petugas menggiring Claudia keluar. Saat ia melewati Bella, ia berbisik dengan suara terluka “ Bella, kenapa kamu sampai hati melakukan ini padaku? Apa salahku? Aku menganggapmu saudaraku…” Bella tersenyum. Tipis. Mengiris. Seperti iblis yang akhirnya melepas topeng malaikatnya. Ia membungkuk sedikit ke arah Claudia dan berbisik seperti racun: “Karena kamu bodoh. Gendut. Menyebalkan. Aku sudah lama ingin menghancurkanmu.” Claudia membeku Bella melanjutkan, suaranya lembut, terlalu lembut untuk sebuah kebencian yang begitu kejam. “Kamu punya segalanya. Uang. Roy. Perusahaan, meskipun kamu gendut, tapi semua orang memujamu karena uangmu dan aku? Aku hanya bayanganmu. ‘Minion’-mu sejak SMA. Orang-orang bahkan lupa aku punya nama” Tatapan Bella menusuk Claudia sampai ke tulang. “Dan karena itu… aku ingin melihatmu jatuh. Jatuh sampai ke jurang tanpa dasar. Sudah cukup aku jadi bayanganmu, sekarang saatnya aku tampil menjulang dan kamu tenggelam” Bella mendekat lagi sangat dekat hingga Claudia bisa merasakan senyum dinginnya seperti pisau menyayat kulit. Bisikannya turun pelan, halus, tapi kejamnya tak terukur. “Sayang sekali kamu membunuh Roy-ku. Tapi itu bukan masalah… aku bisa cari pengganti.” Ia menoleh sedikit, bibirnya melengkung sinis. “Yang lebih baik.Yang lebih kaya dan yang paling penting yang tidak pernah menyentuh tubuh gendutmu. Roy sering bilang… dia merasa jijik setiap kali menidurimu. Katanya rasanya seperti memeluk babi.” Dunia Claudia runtuh. Bukan… dunia, melainkan dirinya sendiri. Perutnya terasa seperti ditikam dari dalam, napasnya mencungkil d**a, dan tatapan Bella menjadi bayangan iblis yang akan menghantuinya selamanya. Petugas menggenggam lengannya dan mulai menyeretnya keluar, tapi kaki Claudia terasa seperti bukan miliknya. Ruang sidang memudar, wajah-wajah hilang, suara-suara tenggelam… Namun bisikan Bella tetap tinggal. Menggema - Menghancurkan diri Claudia. Claudia merasa bukan hanya kehilangan segalanya tapi juga kehilangan dirinya sendiri. Ia diseret melewati ambang pintu, dan saat pintu tertutup di belakangnya…Yang tersisa hanyalah satu kesadaran yang menusuk seperti belati terakhir: Di balik pintu, Bella mungkin sedang tersenyum. Dan di d**a Claudia , ada sebuah lubang hitam yang terus melebar, menelan setiap sisa harga diri yang pernah ia punya. Ia tidak hanya jatuh.Ia dijatuhkan. Oleh dua orang yang paling ia cintai.Dengan cara paling keji yang bisa dibayangkan seorang manusia. Dan ketika ia terus diseret menjauh menuju sel tahanannya , air mata jatuh , bukan sekadar karena sakit… tetapi karena ia tahu: Pengkhianatan mereka lebih menyakitkan daripada hukuman apa pun yang akan diputuskan hakim nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN