Bab 7. Tertantang

1088 Kata
“Sekitar jam lima, Can. Aku udah buat janji. Nanti dari kampus aku langsung jemput kamu.” ‘Ngga mau ketemu di tempat aja?’ “Aku bisa jemput. Kamu tunggu aja di apartemen. Pokoknya kalau nanti aku kabarin kalau udah mau jalan. Ingat, Can, waktunya udah ngga lama. Jangan sampai orang tua aku turun tangan.” ‘Okay, okay. Nanti kabarin aja. Semangat kerja, ya, Sa. Love you.’ “Love you too.” Tut! Tok! Tok! Tok! Aksa melirik ke arah pintu. Setelah menaruh ponsel dia menyahut, mempersilahkan orang di luar untuk masuk. Pintu terbuka, menampilkan sesosok wanita dengan kepala sedikit merunduk. Entah dia sedang mencari apa di lantai. “Siang, Pak.” “Kamu lagi, Keysha. Kali ini mau apa?” sahut Aksa menghiraukan sapaan Keysha. Mendengar nada Aksa yang kurang mengenakkan Keysha terkekeh. Jika tadi kepalanya tertunduk, kini dia memberanikan diri menatap sambil memberikan kopi serta cookies yang dia beli sebelum ke sini. Melihat itu Aksa menyeritkan keningnya. “Ini kopi sama cookies buat Bapak. Umhh, sebagai permintaan maaf saya atas kejadian tadi pagi. Dan juga ucapan terima kasih karna semalam Bapak beliin saya makan. Padahal ngga perlu loh, Pak, tapi makasih deh jadi saya irit uang makan.” Keysha tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya. Kerutan di kening Aksa semakin bertambah dan cookies itu, Aksa justru hanya memandangi. Cemilan dan minuman yang tak kunjung diterima membuat Keysha sedikit kesal. Dalam hati dia sudah menggerutu. Memangnya sesusah itu untuk menerima? Hanya menerima, bukan membayar. “Pak? Kok Bapak diam, sih? Ini saya kasihnya tulus loh. Bela-belain saya keluar uang buat beliin Bapak. Masa iya ngga diterima?” Bibir mungil Keysha mengerucut, tetapi tangannya masih dia ulurkan. Terdengar helaan napas dari Aksa. Karena tidak ingin terlibat drama, pada akhirnya Aksa menerima pemberian Keysha. Melihat itu tentu dia sangat senang. Saking senangnya gadis itu sampai bertepuk tangan layaknya anak kecil yang dibelikan gulali. “Sama-sama, Keysha,” ujar Keysha dengan wajah tanpa dosanya. Kepala Aksa sedikit terangkat mendengar sindiran halus itu. Walaupun sedang malas tersenyum, tetapi pria itu memaksakan bibirnya untuk senyum. “Okay, terima kasih, Keysha. Tapi saya harap ini bukan sogokan buat masalah rambut. Segera cat hitam! Saya ngga mau pas kelas nanti kamu masih begini.” Lagi-lagi Keysha mengerucutkan bibirnya. “Pak, saya udah nyaman begini. Lagipula ngga ada hubungannya antara warna rambut dengan jalannya pelajaran. Saya masih bisa fokus, masih bisa memperhatikan Bapak. Bapak punya dendam sama saya, ya?” “Mau cat sendiri atau saya harus turun tangan?” Sebelah alis Aksa terangkat menatap Keysha. Kedua bola mata Keysha berbinar. Senyumnya kembali merekah. Satu langkah dia maju, sampai mentok ke meja. Tatapan gadis itu seolah mengunci pandangan sang dosen. “Bapak mau cat-in rambut saya? Dengan senang hati saya mau loh.” “Keysha,” geram Aksa. Lama-lama berinteraksi dengan Keysha benar-benar membuat Aksa naik darah. Satu mahasiswinya itu memang ada saja tingkahnya. Tangan pria itu terangkat, memberi kode usiran agar gadis di depannya pergi. Paham dengan usiran itu, Keysha yang awalnya berdiri berubah posisi menjadi duduk. Sontak saja Aksa dibuat kesal dan juga bingung. Entah dengan cara apa dia menghadapi siswinya. Pusing, Aksa memijat kening sambil memejamkan mata. “Sekarang juga saya siap, Pak.” Lagi, Keysha kembali buka suara. “Kamu bisa keluar dari ruangan saya ngga? Sekarang, ngga pakai nanti. Kerjaan saya masih banyak, kehadiran kamu ganggu. Kopi dan cemilannya udah saya terima, saya juga udah ucapkan terima kasih. Lalu apalagi yang kamu mau? Pintu di sana, kamu bisa ke luar.” Tangan Aksa terulur, menunjuk pintu yang ada di belakang Keysha. Dalam hati Keysha kembali menggerutu. Astaga, susah sekali mendekati pria dihadapannya. Kalau terus begini, bagaimana bisa misinya rampung dalam waktu dua minggu? Tak! “Awwh.” Lamunan Keysha buyar, dia mendesisi sambil mengusap keningnya yang baru saja terkena sentilan. “Saya menolak menghitamkan rambut. Kecuali kalau Bapak ngga sensi sama saya lagi,” sambungnya. Aksa berdiri, berjalan mendekati Keysha yang masih santai duduk. Tanpa aba-aba pria itu menarik lengan Keysha, lalu membawanya keluar. Walaupun sempat memberontak, tetapi tetap saja tenaga Aksa yang menang. “Mending kamu gabung sama teman yang lain, jangan ganggu saya.” Setelah mengatakan itu Aksa langsung menutup pintu. Alih-alih kesal, Keysha justru tersenyum lebar. Walaupun sadar misinya akan berjalan sulit, Keysha akan tetap menghadapi. Karena jujur saja dia menjadi tertantang. *** “Daritadi gue ngga liat Keysha. Ke mana dia?” “Lo kayak ngga tau Keysha aja, Ta. Cegil satu itu ‘kan emang sering ngilang.” Tata menghela napasnya. Apa yang Frishlly katakan tidak salah, memang ada benarnya. Sifat Keysha yang sangat humble, membuatnya gampang berbaur dengan semua manusia. Sembari menunggu Keysha, keempatnya melanjutkan aktivitas masing-masing. Ada yang makan, bahkan membuat tugas. “Nanti balik kampus ke mall yuk. Kepala gue udah pusing, pengen refreshing. Atau mau nonton?” ajak Aghnia sambil menutup laptop. Tugasnya sudah selesai, dan kini otaknya sangat mendidih. “Gue sih ayo aja,” sahut Tata yang juga diangguki oleh Hana dan Frishlly. Meninggalkan keempat wanita itu, sedangkan di meja kantin Keysha sedang tertahan. Dia tidak bisa pergi apalagi melarikan diri. Alhasil mau tidak mau dia duduk sambil menopang dagu. “Menurut lo gue harus apa, Key? Ayo kasih gue solusi, jangan diam. Gunanya lo duduk di sini ya buat cariin solusi.” “Aduh, Nana, kepala gue pusing! Gue belum lulus S1, kenapa udah dikasih beban kayak gini sih?” Keysha mengusap kasar wajahnya. Sejak tadi kepalanya benar-benar pening. Ingin rasanya berendam di air dingin. Wanita bernama Nana itu menepuk bahu Keysha. “Ya elo ‘kan calon psikolog, terus juga udah belajar dari semester satu. Yakali ngga ada yang nyangkut di otak? Anggap aja ini latihan sebelum lo terjun langsung ketemu klien.” Sumpah. Sambil menutup wajah Keysha menjawab, “menurut gue ya, Na. ini menurut pandangan gue sebagai orang lain. Kalau emang lo ngerasa udah ngga beres sama hubungan yang lagi dijalanin, ya berhenti. Iya tau susah, tapi ngga mungkin dong selamanya lo diam? Diam ngga akan mengubah apapun. toxic relationship itu ngga baik, Na, sumpah. Efeknya banyak. Bukan Cuma mental, fisik juga akan kena.” “Tapi gue sayang sama dia, Key.” “Makan tuh sayang!” Keysha menarik rambut Nana yang terkuncir. Setelah itu dia berlari meninggalkan kantin. Sudah pusing pelajaran, ditambah pusing dengar curhatan orang. Perlahan Keysha menghentikan larinya, dia berjalan sambil melihat keseliling. Saat matanya sedang mencari keempat sahabatnya, tak sengaja Keysha beradu tatap dengan Aksa. Pria itu sedang mengobrol dengan dosennya yang lain. Tanpa rasa canggung Keysha melambaikan tangan. Namun alih-alih disambut baik, pria itu justru memalingkan wajah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN