Sein terus bergerak gelisah dalam tidurnya, berkali-kali matanya melirik ke arah jam di atas nakas yang saat ini menunjukkan pukul 1 lewat 15 menit. Itu artinya, hari baru saja berganti. "Lapar," lirih Sein seraya mengusap perutnya yang sedari tadi sudah berbunyi. Padahal sebelum ia tidur, ia sudah makan banyak sekali cemilan. Secara perlahan, Sein melepaskan pelukan tangan kanan sang suami dari pinggangnya dan langsung berbalik menghadap Anton yang sama sekali tidak terganggu dengan pergerakannya. "Bangunin atau enggak ya?" Sein merasa tidak tega kalau harus membangunkan Anton. Apalagi saat ia tahu kalau suaminya ini tertidur dengan sangat pulas. Tapi di satu sisi, Sein mau kalau Anton yang memasak untuknya, dan menemaninya makan. Setelah 5 menit berpikir, akhirnya Sein memu

