Happy Reading. Levina menghela napas panjang. Setelah berminggu-minggu menyusun rencana pembalasan dendam, akhirnya ia bisa merebut kembali semua yang telah diambil oleh mantan suaminya. Sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya, namun matanya menyimpan bara tekad yang membara. Dari arah dapur, Ethan muncul membawa dua cangkir cokelat panas. Aroma manis minuman itu memenuhi ruangan, sedikit meredakan ketegangan yang memenuhi udara. Ethan menyodorkan salah satu cangkir kepada Levina. "Minumlah, kamu pasti haus," ujar Ethan lembut, tatapannya penuh perhatian. "Terima kasih, Tuan," jawab Levina, menerima cangkir itu dengan senyum tulus. Ia meniup permukaannya sebelum menyesapnya perlahan. Rasa hangat cokelat itu menjalar di tubuhnya, menenangkan saraf-saraf yang tegang. Ethan duduk di sampi

