Entah sudah berapa lama Gia berjalan, ia tidak tahu pasti. Hanya saja kakinya mulai terasa sakit dan hujan rintik-rintik mulai membasahi tubuhnya. “Hujan.” Gia menengadah menatap ke atas dimana hujan berjatuhan mengenai wajahnya. “Untung hujan.” Gumamnya, setelah itu Gia menangis. . Gia tidak peduli tatapan aneh yang tertuju padanya, bisa saja mereka menganggap Gia orang gila baru. Berjalan tanpa arah di tengah hujan sementara beberapa orang waras lainnya justru memilih tempat untuk berteduh entah itu halte atau warung pinggir jalan. Apa saja mereka lakukan untuk menghindari air hujan agar tidak membasahi tubuh mereka. Tapi yang dilakukan Gia justru sebaliknya, ia memilih untuk berada di bawah guyuran air hujan, membiarkan tubuhnya basah kuyup. “Gia!” Seseorang menarik tangan Gia