Bab 2. Sisa Rasa Nikmat Semalam

1144 Kata
Vivian membuka pintu rumah perlahan. Matahari baru saja menyibak langit dengan semburat jingga pucat. Tubuhnya masih terasa lengket oleh sisa malam yang dibungkus kemarahan dan rasa bersalah. Namun, itu tak seberapa dibanding rasa sakit yang masih menghantam dadanya akibat ulah sang suami. Bunyi pintu membuat Hans menoleh dari meja makan. Dia duduk di sana, masih mengenakan kemeja putih kusut, wajahnya tegang, matanya merah karena begadang. Vivian meliriknya sekilas, lalu berjalan melewati Hans tanpa sepatah kata. “Kamu dari mana semalam?” tanya pria itu. Langkah Vivian terhenti. “Tidur di mana?” lanjut Hans dengan nada tajam. “Sama siapa?” Vivian memutar tubuhnya pelan, menatap pria itu dengan dingin. “Sungguh ironis kamu nanya kayak gitu, Hans. Harusnya aku yang tanya itu ke kamu, waktu aku nemu kamu telanjang bareng sekretarismu sendiri,” kata Vivian kasar. Wajah Hans berubah kaku. Namun, tidak bisa menimpali ucapan istrinya. “Aku enggak mau ribut,” lanjut Vivian, suaranya tenang tapi beracun. “Aku capek. Dan aku harus kerja pagi ini.” “Kerja?” Hans berdiri dari kursinya. “Vivian, kamu pulang pagi-pagi begini, kelihatan seperti habis dari—” “Dari apa, Hans?” Vivian menyela, sengaja mendekatkan wajahnya ke arah suaminya. “Dari pelarian karena suamiku tidur dengan wanita lain? Dari kehancuran karena pernikahan ini cuma formalitas busuk?” katanya. Hans menatap leher Vivian, tepat di bawah rahangnya, samar terlihat bekas kemerahan yang belum sempat ditutupi dengan riasan. Yang kemudian membuat asumsi gila di kepala pria itu. “Siapa dia?” tanyanya kemudian. Vivian tertawa kecil, getir. “Oh, sekarang kamu peduli?” Hans mendekat, wajahnya nyaris berada di depan Vivian. “Kamu istriku, Vivian.” “Enggak,” potong Vivian tegas. “Kamu kehilangan hak atas tubuhku dan hatiku sejak kamu tidur dengan perempuan lain,” sahut Vivian cepat. Ia berbalik, melangkah menuju kamar tanpa menunggu jawaban. Hans hanya berdiri membeku di ruang tengah, diliputi amarah dan kecurigaan yang tak bisa dia ucapkan. Vivian tak menoleh ke belakang. Dalam hati, ia masih gemetar. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit bebas—meski caranya salah. *** Langit belum sepenuhnya cerah saat Vivian melangkah cepat keluar dari apartemennya. Matanya masih sembab, tapi dia menutupi semuanya dengan foundation dan kacamata hitam. Di satu tangan, dia menenteng tas kerja. Di tangan lainnya, secangkir kopi hitam yang lebih banyak berfungsi sebagai pelindung mood daripada penghilang kantuk. Mobilnya menderu di jalan, menyusuri kemacetan khas pagi hari. Sepanjang perjalanan, pikirannya masih berkutat pada Hans. Rumah tangga mereka mungkin tampak sempurna dari luar, tapi semalam Vivian merasa benar-benar bebas—meski kebebasan itu terasa pahit di pagi hari. Banyak hal yang ia pikirkan ketika mengetahui Hans selingkuh, termasuk keluarganya. Ia tak tahu, tapi satu hal pasti, ibunya pasti akan sangat kecewa. Vivian tiba di kantor lima belas menit lebih lambat dari biasanya. Wajah-wajah rekan kerjanya terlihat panik saat ia datang. Mereka berbisik-bisik dengan ekspresi was-was. Seorang staf dari bagian keuangan bahkan sempat tersandung karena terlalu buru-buru berjalan. "Ada apa, sih?" tanya Vivian setengah malas pada teman satu divisinya, Mita. "Kamu belum tahu? CEO baru hari ini masuk. Tuan muda Sinclaire. Ganteng, muda, katanya galak banget!" jelas sang rekan. Vivian hanya mengangguk setengah sadar. Dia masih belum benar-benar fokus. Yang ada di pikirannya hanyalah dokumen tender besar yang harus dia serahkan pagi ini. "Vi, Pak Leo minta kamu antar laporan ini ke kantor lantai dua. Langsung ke tangan CEO," kata seorang staf dari bagian legal. Vivian mendesah. "Aku?" "Ya, katanya kamu yang paling ngerti isi laporannya. Biar nanti kalau bos tanya, kamu bisa jelasin,” ucapnya. Dengan enggan, ia mengambil map tersebut dan menuju lift. Tumit sepatunya berdetak pelan di lantai marmer kantor pusat Sinclaire Holdings. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup bertemu bos baru, tapi karena kurang tidur dan emosi yang belum reda sepenuhnya. Begitu sampai di lantai dua, sekretaris pribadi sang CEO menyuruhnya langsung masuk. Ruangan itu luas, penuh cahaya alami dari jendela kaca besar yang menghadap kota. Aroma kopi dan aftershave mahal menyambut Vivian begitu ia membuka pintu. “Permisi, Pak. Saya Viivian dari–” Ucapannya terjeda. Vivian membeku di ruangan itu. Tubuhnya gemetar. Karena pria yang duduk dengan santai di balik meja eksekutif. Pria yang tangan kirinya memegang pena Montblanc, sedangkan tangan kanan menopang dagunya. Tatapan itu. Senyuman itu. Tubuh yang terlalu akrab. Bibir Vivian bergetar. Matanya akhirnya mengangkat dan jantungnya langsung membeku. Laki-laki itu. Dia. Pemuda yang semalam bersamanya di hotel. Yang tubuhnya sempat dia hapal dalam kabut mabuk dan amarah. Yang ciumannya masih terasa panas di bibir Vivian. Yang ia bayar dengan beberapa ratus ribu untuk kehangatannya. Kini, pemuda itu duduk santai di balik meja CEO, mengenakan setelan jas rapi warna abu terang, kemeja putih bersih, dan dasi yang longgar dengan cara kasual. Rambutnya ditata apik tapi tetap dengan gaya berantakan khas anak muda yang tahu dirinya terlalu tampan untuk repot-repot terlihat serius. Pemuda itu–yang tak pernah menyebutkan namanya semalam—tersenyum. Pelan-pelan dia bangkit dari kursinya, memicingkan mata ke arah Vivian seperti sedang menilai lukisan mahal di galeri. “Dejavu, ya,” gumamnya, suaranya rendah, serak, tapi penuh ejekan halus. Vivian mematung. Pemuda itu mendekat dengan langkah santai, percaya diri. Sepasang matanya gelap dan penuh kenangan dari semalam. “Jadi ... kita bertemu lagi. Tapi kali ini, kamu enggak bangun pagi-pagi dan kabur pakai sepatu tumit tinggi sambil ninggalin uang di meja, ya?” katanya menggoda. Vivian menahan napas. Ia merasa seluruh darah di tubuhnya ditarik mundur ke d**a. Lututnya hampir lemas. Dan bibirnya terasa kelu. Sial memang. “Kamu …,” bisiknya nyaris tak terdengar. Pemuda itu menyeringai. “Kalau kamu masih belum tahu, aku Ethan. Ethan Sinclaire.” Dia mencondongkan tubuh sedikit, menyambut keterkejutan Vivian seperti hadiah paling menyenangkan pagi ini. “Selamat pagi, Miss….” Ethan menyipitkan mata, seolah-olah berpura-pura lupa, “Apa aku boleh tetap memanggilmu sayang seperti semalam?” Vivian terperangah. Wajahnya memucat lalu berubah kemerahan. Ia langsung membungkuk sedikit, panik. “Saya ... saya minta maaf. Saya tidak tahu kalau Anda ... Saya tidak tahu kalau Anda adalah bos baru di sini. Saya sungguh tidak bermaksud—saya kira Anda hanya….” “Hanya siapa? Berondong? Pemuda yang mencari uang dalam semalam?” sahut Ethan cepat. Kalimatnya menggantung, dan Vivian hampir tidak tahu bagaimana caranya menghapus rasa malu yang menghantam dadanya. Ethan menahan tawa pelan, tangannya diselipkan ke saku celana. "Santai saja, Vivian. Aku tidak merasa dirugikan, kok." Ia menatap dalam ke matanya. “Menurutku kita bisa mengulanginya lain waktu. Dengan catatan, kamu tak perlu repot-repot membayar lagi.” Vivian membeku. Wajahnya merah padam, matanya langsung menunduk dalam-dalam. Sementara Ethan menyeringai puas dan kembali mencondongkan wajahnya mendekati wanita itu. “Lagi pula … aku menyukai tubuhmu. Jadi … aku mau lagi, lain kali,” bisik pria itu sebelum berlalu kembali ke belakang mejanya dengan senyum menyebalkan dan membuat Vivian membeku dengan rasa kesal di dadanya. Andai bukan CEO, aku pasti sudah menamparnya, batin wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN