Bab 8 Cantik

1010 Kata
Saat Nesya membuka pintu rumah dinas sore itu setelah pulang bekerja, aroma sabun dan udara hangat langsung menyambutnya. Ia berhenti di ambang pintu. Leo ada di ruang tengah. Suami yang baru dinikahinya kemarin itu mengenakan kaos abu-abu santai dan celana rumah. Rambutnya setengah basah, jelas baru selesai mandi. Beberapa helai jatuh ke dahinya. Pemandangan itu terasa asing. Sebab selama ini ia hanya melihat Leo dalam setelan rapi, kemeja formal, atau seragam yang kaku. Versi santai ini terasa terlalu manusiawi. Leo menoleh ketika mendengar pintu dibuka. Tatapan mereka bertemu sebentar dan pria itu segera memalingkan wajahnya seolah bertatapan lama dengan Nesya bukan hal yang nyaman baginya. “Kamu sudah pulang.” Nada suaranya tetap datar. Namun tidak setajam kemarin. Di tangan Nesya ada beberapa paper bag. “Apa itu?” tanyanya. “Pakaian,” jawab Nesya singkat. “Aku membelinya di mall tadi.” "Kamu bisa memintaku melakukannya." "Aku bisa sendiri." "Hm... soal pakaian itu..." "Tolong segera singkirkan. Akan lebih baik bila disimpan di kamarmu. Aku tidak ingin melihatnya," tegas Nesya. Nada suaranya terdengar tajam, tetapi jelas, hatinya penuh luka. Leo sempat tertegun, tetapi mengangguk mengiyakan. Dia mengerti tanpa perlu penjelasan lebih jauh. Nesya tidak ingin memakai pakaian Maria. Ada sesuatu di dadanya yang terasa aneh saat menyadari itu. “Aku mau keluar makan. Kamu mau ikut,” kata Leo tiba-tiba. Nesya menutup pintu perlahan. “Aku sudah makan.” Jawaban sederhana dan tanpa emosi. Leo mengangguk pelan, seolah tidak peduli. Namun ia tetap berdiri di sana beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Besok kita ke rumah orang tuaku. Setelah itu ke rumah orang tuamu.” Nesya yang sedang meletakkan tasnya berhenti. “Ngapain?” “Pertemuan keluarga,” jawab Leo tenang. “Atau lebih tepatnya… mereka ingin memastikan kita benar-benar menikah. Bukan sekadar formalitas. Juga, ini bisa disebut kunjungan setelah menikah, kan?” Nesya tersenyum tipis. “Hm... bukankah kita menikah hanya sebagai formalitas? Kenapa harus ada kunjungan?” sahutnya dengan nada menukik, "Lagipula, kamu yang menegaskannya tadi malam, aku hanya pengganti." Tatapan Leo langsung mengeras. Hatinya tersinggung, tetapi entah kenapa dia juga merasa bersalah di saat yang sama. “Kita harus merahasiakannya.” “Kenapa?” Leo melangkah mendekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat jarak terasa berbeda. “Nyawa mamaku taruhannya. Kamu tidak mau menjadi penyebab mamaku masuk rumah sakit kan?” Kalimat itu tidak diucapkan dengan dramatis. Justru terlalu serius. Nesya tercekat. Ia tahu ibu Leo memiliki riwayat penyakit jantung. Jika pernikahan ini ternyata palsu atau gagal dalam waktu dekat, maka gosip keluarga besar bisa jadi pukulan berat. Lagipula, waktu itu Leo bersedia menikah karena mamanya. Jadi, sangat tidak tahu balas budi kalau dia masih bersikap kurang ajar setelah semua itu. Nesya menghela napas pelan. Entah kenapa semuanya terasa semakin berat. “Baiklah.” Hanya satu kata. Tanpa perdebatan. Setelah setuju, Nesya berjalan menuju kamar tamu. Dia lelah dan melihat Leo hanya membuat rasa lelahnya semakin besar. Leo memperhatikannya pergi. Langkahnya pelan. Bahu yang sedikit turun seolah beban itu hanya bertambah, bukan berkurang. Leo berusaha mengalihkan pikiran dengan membuka laptop di meja makan. Bekerja, membaca laporan dan mengetik email. Namun pikirannya tidak fokus. Awalnya dia berniat untuk makan, tetapi Nesya menolaknya dan itu membuat selera makannya menghilang. Sebagai balasan, dia mencurahkan pikirannya ke pekerjaan. Entah kenapa, rumah itu terasa berbeda sejak Nesya datang. Semua terasa lebih… hidup. Hal itu mengganggunya. Akhirnya ia berdiri. Tanpa alasan jelas dan mengetuk pintu kamar tamu. Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Nesya berdiri di sana. Ia sudah mandi. Rambutnya tergerai alami, masih sedikit lembap. Ia mengenakan dress lengan pendek warna krem lembut — sederhana, tidak ketat dan jatuh ringan mengikuti bentuk tubuhnya. Penampilan Nesya tidak mencolok atau berlebihan. Namun mampu membuat seorang Leo terpaku. Nesya terlihat… kalem dan lembut di pandangan pria itu. Sejenak, dia seperti melihat aura mirip ibunya waktu muda, membuatnya merasa nyaman dan terpesona. Kesan Nesya seorang yang arogan, skeptis dan suka menindas seperti yang selalu Maria katakan, perlahan memudar. Entah kenapa, Nesya terlihat berbeda dari yang selama ini ia pikirkan. “Kamu butuh sesuatu?” tanya Nesya pelan. Leo tersadar dan segera berusaha untuk menjawab meskipun otak dan pikirannya masih belum singkron. “Oh… aku hanya…” Ia bahkan tidak tahu kenapa ia mengetuk pintu itu. Matanya masih terpaku beberapa detik terlalu lama. “Kamu… cantik.” Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa filter dan tanpa rencana. Hening. Wajah Nesya langsung memerah tipis. Pujian itu cukup mengejutkan, tetapi cukup membuat hati terdalamnya merasa bahagia. “Apa?” Leo berkedip cepat, seolah baru sadar apa yang ia ucapkan. “Aku maksudnya… eh… pakaian itu cocok,” katanya kaku. “Auranya kalem dan cocok dengan warna kulitmu. Kamu berbeda dar yang lain.” Nesya terdiam. Jawaban yang buruk, nilainya. Tidak seperti Maria, maksudnya. Nesya menebak jawaban Leo Meski Leo tidak menyelesaikan kalimatnya dengan benar. Namun, pujian tetaplah pujian. Nesya tersenyum kecil. “Terima kasih.” Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, suasana tidak terasa seperti medan perang. Hanya dua orang asing… yang tiba-tiba menyadari bahwa mungkin, mereka tidak sepenuhnya asing. Leo berdeham pelan. “Besok pagi kita berangkat jam sembilan.” "Kamu bisa?" "Aku besok tidak bekerja, jadi bisa. Kamu?" "Ya, aku juga sudah menyelesaikan urusanku, kecuali ada hal mendesak seperti tadi malam." Tadi malam, hal itu sedikit membuat Nesya sesak. Dia merasa kesal, marah tapi juga pasrah. Sebab, ucapan Leo sebenarnya tidak salah. Hanya saja, bukan dia yang meminta posisi ini. Jadi, tuduhan Leo yang mengatakan dia hanya pengganti, terasa menusuk dan menyinggung ego dan harga dirinya sebagai wanita. "Kalau begitu, aku harap kita bisa sarapan dulu sebelum berangkat." “Baik.” Jawaban Nesya singkat, tapi cukup membuat Leo mengerti kalau wanita itu tidak menolak. Pintu kamar tertutup kembali. Leo berdiri beberapa detik di depan pintu itu. Dadanya terasa sedikit tidak nyaman. Ia tidak seharusnya memperhatikan hal-hal seperti itu. Ini hanya sementara. Namun entah kenapa… bayangan Nesya dengan rambut tergerai tadi tidak mau pergi dari pikirannya. Di dalam kamar, Nesya menyentuh pipinya sendiri yang masih hangat. Ia seharusnya tidak peduli. Akan tetapi satu kata itu… Cantik. Malam itu, untuk pertama kalinya, rumah berwarna biru terasa sedikit tidak terlalu dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN