Kamis (17.35), 07 Oktober 2021 ------------------------- Edrick Altezza menatap sekitar dengan binar kanak-kanak di matanya. Di tangan kanannya ada permen kapas sementara tangan kirinya memeluk setumpuk mainan. “Edrick, astaga!” Duma Tavisha setengah berlari mengejar langkah lebar Edrick. Sangat sulit mengejar bayi besar itu di antara keramaian. Apalagi kedua tangan Tavisha penuh dengan kantong kresek. “Edrick!” Lagi-lagi seruan Tavisha tak mendapat tanggapan. Tak peduli suasana sekitarnya ramai, dia yakin Edrick bisa mendengarnya dengan jelas. Akhirnya Tavisha berhenti. Sadar bahwa Edrick sengaja mengabaikannya. “Baiklah,” geram wanita dua puluh delapan tahun itu. “kalau kau tidak kembali ke sini dalam hitungan ketiga, akan kubuang semua benda di tanganku. Satu...” Tak perlu sampa

