Ketukan di pintu kamar Darren terdengar pelan, teratur dan cukup jelas untuk didengar dari dalam, tapi tidak sampai mengganggu keheningan rumah besar itu. Pintu terbuka perlahan. Darren muncul dengan sorot mata yang sulit dibaca. Ia hanya membuka setengah, lalu menyandarkan satu tangannya di kusen pintu, tubuhnya setengah terhalang bayangan lampu kamar. “Kamu datang juga akhirnya.” Suaranya rendah, dalam, dengan nada menggoda yang tak bisa dihindari. Bibirnya terangkat tipis. “Silakan masuk.” Alena menunduk sebentar, lalu melangkah masuk tanpa banyak bicara. Hatinya berdegup kencang, tapi langkahnya terasa ringan, seolah tubuhnya bergerak sendiri tanpa sempat berpikir ulang. Kamar Darren berbeda dari ruang-ruang lain di rumah itu. Dindingnya dilapisi warna gelap, rak buku penuh tertata

