Darren sedang sibuk di ruangannya di kantor utama Wibisono Group yang mewah. Ia memakai kacamata berbingkai hitam yang elegan, membuat wajah tegasnya nampak semakin berkarisma, kontras dengan rambutnya yang sudah acak-acakan karena terlalu sering ia sisir dengan jari. Kemeja mahalnya pun sudah tak serapi saat ia datang pagi tadi. "Tsk, gimana sih ini!" gerutunya, matanya menatap tajam laporan keuangan di layar monitor. Ia melihat data dari salah satu cabang restorannya. Ia memijat pelipisnya. Penjualan di cabang Kuta, Bali, lumayan merosot tajam. Memang, ia belum sempat melakukan pengecekan langsung ke sana sejak lima bulan lalu. Ia menggeser kursornya, beralih ke laporan pengunjung harian Hotelnya di beberapa kota besar. Wibisono Heritage Hotel juga menunjukkan beberapa penurunan yang s

