Mara berdecak melihat siapa yang berdiri di teras rumah orang tuanya. “Jadi … dia?” “Hmm,” sahut Mara tanpa mengalihkan pandangan mata dari teras. Satu tangan wanita itu bergerak melepas kuncian seatbelt. Menghembus pelan napasnya, wanita itu menoleh ke samping. “Ayo, turun.” Lalu detik berikutnya, tangan wanita itu mendorong daun pintu. Derryl mengangguk. Pria itu menyusul Mara turun dari dalam mobil dengan membawa tas travel yang tidak seberapa besar. Hanya berisi beberapa pasang pakaian karena dia tidak berencana tinggal lama. Hanya sehari. Besok dia sudah harus kembali ke Singapura. Mengurus bisnisnya dan juga memantau kondisi sang papa. Dua orang itu berjalan bersama. Derryl sudah menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke atas, ketika tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata

