“Cepat, turunkan aku. Kepalaku sudah pusing. Raga! Derryl harus segera menikah. Cincinnya masih aku bawa. Turunkan aku. Aku harus memberikan cincinnya pada Derryl. Cepat turunkan aku, atau aku akan membencimu seumur hidup.” “Aku tidak mau kamu menikah dengannya.” “Siapa yang mau menikah dengannya? Cepat. Pengantinnya pasti sudah menunggu.” Raga linglung. Pria itu menatap Derryl yang sudah menarik satu sudut bibirnya. Menggeser pandangan mata, dia melihat Fian menatapnya dengan dua alis tertarik ke atas, serta senyum mengejek. Oh … mungkin, jika kedua tangannya tidak sedang sibuk menahan beban tubuh Mara dan juga Haniya, dia sudah akan mengayun kepalan tangannya. Sepasang mata pria itu mengedip. “Kamu tidak mendengar apa yang Mara katakan?” tanya Fian sambil menggeleng-gelengkan kepala

