Jarum jam sudah menunjuk pukul lima sore. Di apartemen Mina yang berantakan, Laura duduk bersandar di sofa dengan wajah lesu. Ponselnya terus bergetar di sampingnya, nama ibunya, Cyntia, dan Raihan bergantian memenuhi layar. Nada dering berulang-ulang itu semakin membuat kepalanya berdenyut. “Kalau nggak mau angkat, matiin aja sekalian, Ra,” komentar Mina yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin kecil. Laura hanya mendesah panjang. “Nggak tau, Na. Rasanya… malas banget. Kayak nggak pengen mikirin apa-apa.” Mina menoleh ke arahnya. “Lo butuh hiburan. Udah, ikut gue keluar. Kita ketemu temen-temen, lo bakal lupa sama semua masalah lo.” Laura menggeleng pelan, tapi Mina tak menyerah. Dengan langkah ringan, ia menarik tangan Laura, berusaha membuat temannya berdiri. Laura menurut, m

