Lani tak kuasa menahan pikirannya yang telah traveling ke mana-mana membayangkan aktifitas majikan dan istrinya di dalam ruangan itu. Sesekali matanya melirik ke arah kaca ruangan yang telah tertutup rapat. Apa yang diharapkannya, kaca itu akan membuka kembali atau apa? Ia terkekeh geli dalam hati, mempersiapkan berbagai kata-kata ledekan untuk Kayla. Senyum tak bisa reda dari sudut bibirnya. Untuk fokus pun kini ia sulit. Hampir tiga puluh menit berlalu, ruangan kantor Agastya masih tertutup rapat. Lani sudah bisa menguasai diri dan melanjutkan pekerjaannya dengan tenang ketika suara ketukan hak sepatu terdengar dari ujung ruangan. Lani menoleh dan seketika merasa gugup. "Selamat siang, Bu." Lani menyapa hormat, berdiri sambil sedikit membungkuk. "Selamat siang, Agastya di dalam?" Tany

