10. Temani Saya

1341 Kata
Sejak Agastya aktif di kantor, empat hari yang lalu, Kayla belum pernah bertemu dengannya selain dalam kegiatan meeting. Itupun mereka tak saling bertegur sapa. Selain dikarenakan jadwal penyelarasan data Agastya yang padat, hingga selalu mengurungnya dalam ruangan, Kayla juga sebisa mungkin menghindar agar tak berpapasan dengan Agastya. Entah lah, masih ada rasa kesal yang tersisa dari perbincangan terakhirnya dengan Agastya melalui telpon waktu itu. --- Lani FO ["Maksi, yuuk!"] Wulan TO ["Yuuk!"] Kayla ["10 menit lagi."] ["Nanggung."] Tia MO ["Kuuy!"] Sisi OO ["Yuuk!(2)"] Lani FO ["Cepet juga si Boss,"] ["Cuma sepuluh menit. :p "] Kayla ["Guguk, lu!"] ["Ketemu di pantry aja."] --- "Tumben, Ibu Sekre bawa bekal, masak lu?" Sisi menoleh ke arah Kayla yang baru saja memasuki pantri dengan menenteng kotak bekal berwarna hijau. Kayla memberikan cengiran pada Sisi, ia kemudian menuju ke salah satu pintu lemari di dapur itu. Pantri di lantai delapan ini sudah seperti dapur mini. Ada kompor portable lengkap dengan panci dan wajan mini serta beberapa alat masak yang tersimpan rapi di dalam lemari, dispenser tiga suhu bahkan kulkas mini. "Kecepatan bangun, jadi ada waktu deh buat masak," ucap Kayla lagi. Ia ingin memanaskan lauk yang ia bawa dari rumah. "Lu udah kelar makan, Lan?" Wulan yang ditanya, mengangguk. "Cepet banget? Gak nungguin gue." Kayla mendudukkan bokongnya di kursi, di sebelah Lani, setelah sebelumnya mencuci tangan dan mengambil air mineral dari dispenser. "Lu hobi banget makan pake tangan, heran gue?" Wulan memperhatikan Kayla dengan seksama. "Makan pakai tangan langsung itu sunah Rasul, tau kan, lu?" Kayla dengan santai menikmati ikan kembung yang dimasaknya tauco tadi pagi. "Kok gue jadi selera sih lihat lu makan?" Wulan menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Masih laper lu, palingan, kan? Gaya, makan pake mi ramen doang, mana nampol di perut lu!" kekeh Lani sambil menutup mulutnya yang masih berisi makanan. Wulan mencebik kesal, namun tak menampik. Ia tidak lapar, tapi melihat Kayla yang tampak menikmati makan siangnya, membuat air liurnya terbit. Satu persatu teman makan siang Kayla selesai dengan makanannya. Lani, Sisi dan Wulan bahkan sudah merapikan penampilan mereka, sementara Tia sedang mencuci peralatan makannya. "Eh, Pak Agastya! Ada yg bisa dibantu, Pak?" Lani berjengit saat melihat Agastya yang tiba-tiba muncul di pintu pantri. Seketika ia dan keempat gadis lainnya langsung berdiri. Kayla segera melirik jam tangannya, masih dua belas menit lagi menuju jam satu. Berarti ini masih dalam jam makan siang. Namun demi etika kesopanan, ia menjeda makannya dan menunggu reaksi Agastya. Agastya menatap ke arah Kayla sekilas, kemudian menoleh kepada Lani, "Itu telponnya rusak?" Tia yang berada paling dekat dengan pesawat interkom pantri segera memeriksanya. "Oh, maaf Pak, sepertinya OB tidak meletakkan gagangnya dengan benar, jadi kalau ditelpon pasti tidak bunyi," ucap Tia sambil membenarkan kembali letak gagangnya. "Ya sudah. Kayla, buatkan saya kopi dan antar ke ruangan saya," ucapannya jelas, sehingga tak perlu ditanyakan ulang siapa yang ditunjuk Agastya untuk membuatkannya kopi. Selesai memberikan perintah, Agastya segera berlalu dari ruang pantri. Tersisa empat pasang mata di dapur itu, yang tertuju pada Kayla. Kayla mengedikkan bahu dan kembali melanjutkan makannya, mengacuhkan empat perempuan yang memandangnya dengan wajah kepo. "Kenapa Pak Agastya bisa langsung minta lu yang bikinin kopinya? Apa dia tau selama ini lu yang bikin?" Lani menatap Kayla sambil memicingkan matanya. "Mana gue tau, mungkin lu gak sengaja bilang ke dia?" "Kapan gue bilang ke dia, gue gak seakrab itu untuk ngobrol-ngobrol," Lani memanyunkan bibirnya. Kayla terkikik pelan. "Tapi, gimana dia bisa minta lu yang bikin, Kay? Bukan ke Lani juga. Emang dia udah pernah ngerasain kopi buatan lu, sebelumnya?" Tia sudah kembali duduk dan kini menatap Kayla penasaran. Kayla meringis dan beranjak dari kursi meja makan. Ia membiarkan keempat teman dalam posisi menanti penasaran. "Gak usah sok misterius, deh!" ketus Lani gemas. Kayla terkikik pelan, "Iyaa, gue udah pernah bikinin Pak Agastya kopi sekali, waktu Pak Arka dan Bu Danti ngadain acara di rumahnya." "Hmm, pantes aja!" Lani dan ketiga perempuan di pantri mencebik serentak. Kayla meringis sambil tertawa kala Lani mencubit pinggangnya gemas. Kayla segera menyiapkan kopi pesanan Agastya, kemudian memberikan kepada Lani untuk diantar ke ruangannya. "Bukannya tadi Pak Agastya nyuruh lu sekalian yang antar?" Wulan menginterupsi sebelum Lani melangkah keluar pantri. "Gak, dia cuma suruh gue yang bikin," tuntas Kayla. Ia masih enggan bertemu. --- Lani mengetuk pelan pintu kaca ruangan bos nya. Agastya menoleh sekilas padanya kemudian pandangannya kembali pada laptop di hadapannya. "Terima kasih." Lani mengangguk sopan kemudian bergegas kembali ke mejanya. Hari ini ia menerima beberapa historical financial yang harus ia cross-check sebelum sampai ke tangan Agastya sore nanti, karena lusa adalah jadwal meeting perdana CFO pusat yang baru, dengan para pimpinan tiap kantor cabang. Difisi finance di lantai delapan ini beranggotakan lima orang termasuk Lani. Menempati sisi timur gedung yang sengaja di desain open concept office yang cozy agar mereka tak mudah jenuh saat berkutat dengan angka. Saat semua sedang fokus pada perkerjaannya, tiba-tiba dari ujung koridor terdengar suara ketukan stiletto. Lani menoleh ke arah suara, tampak Kayla sedang berjalan ke arahnya. Lani menaikkan alisnya saat Kayla sudah mendekati mejanya. "Bos lu manggil gue. Gue langsung masuk ya." Lani mengangguk sambil tersenyum dan memicingkan matanya, berlagak curiga. Kayla mendengkus, membuat Lani terkikik pelan. Kayla mengetuk pelan pintu ruangan Agastya dan langsung membukanya tanpa menunggu pemiliknya memberi izin. Agastya menoleh saat suara heels itu menggema di ruangannya. Memperhatikan pemiliknya secara seksama dari balik kacamata bacanya. Kayla menyadari tatapan menilai yang diberikan Agastya, namun dia cukup percaya diri. Blouse berkerah shanghai yang ia kenakan hari ini, standar, tidak tipis, tidak ketat, tidak juga longgar, dipadu dengan pencil skirt yang panjangnya sedikit dibawah lutut yang sudah menjadi model rok andalannya. Penampilannya tak akan kalah dengan para sekertaris di drama-drama korea itu. "Duduk, Kay!" Kayla menghela nafas berat. "Saya berdiri saja, Pak." "Kenapa?" "Yaa ... gak kenapa-napa, saya berdiri aja," Kayla berkeras untuk tetap berdiri, karena bila duduk, kesannya terlalu santai, ia tak mau Lani menduga yang tidak-tidak. "Atau, kamu mau ruangannya saya tutup?" Agastya menatap serius pada Kayla. Tangannya telah memegang remote yang berfungsi untuk memburamkan kaca dan mengunci pintu. Kayla membulatkan matanya, segera saja ia memilih untuk duduk di kursi tamu, di depan meja Agastya daripada pria itu memburamkan kaca yang akan tampak lebih mencurigakan. Kayla kembali menghela nafas menyabarkan diri. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" ia ingin urusannya cepat selesai. Agastya mendengusa melihat sikap Kayla. "Sabtu kamu sibuk?" "Kayaknya enggak, Pak." "Temani saya cari barang untuk isi apartemen." Kayla menatapnya dengan mimik wajah heran. 'Kenapa harus gue?', gumamnya dalam hati, namun ia tak berani bertanya. "Saya butuh perempuan untuk memilihkan peralatan dapur yang saya butuhkan," sepertinya Agastya paham isi benak Kayla. "Bapak tinggal di apartemen? Gak tinggal di rumah Ibu?" "Sekarang saya tinggal di rumah Mami, tapi nanti setelah apartemen rapi, saya akan pindah ke apartemen." "Ada kamar Bapak di rumah Ibu, Bapak juga sendiri." Agastya menatap tajam pada manik mata Kayla. Kayla bergeming, balas menatap. Seandainya ia menjadi Agastya, ia akan memilih tinggal bersama ibunya. Rumah sebesar itu, hanya dipenuhi oleh pelayan, sayang sekali. Kayla juga berani menjamin bahwa kedua suami istri yang tengah menikmati masa pensiun itu, pasti mengharapkan anak-anaknya senantiasa berada dekat dengan mereka. "Saya sudah terbiasa sendiri dan saya juga butuh privasi. Sekali-kali saya akan menginap di sana." Kayla tak menanggapi lagi, ia hanya mengedikkan bahunya saja. "Baiklah, ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?" "Sabtu, jam sebelas saya jemput di rumah kamu dan kamu sudah harus ready. Saya gak suka menunggu." Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa basa-basi lagi Agastya mengembalikan fokusnya pada laptop yang beberapa waktu tadi ia abaikan. Kayla yang paham bahwa ia tak dibutuhkan lagi, segera bangkit untuk meninggalkan ruangan Agastya. Namun langkahnya ia hentikan sesaat ketika tangannya telah menyentuh pegangan pintu. Entah mengapa kepalanya tergerak untuk menoleh sekilas pada Agastya, yang ternyata juga tengah menatapnya. Keduanya hanya saling tatap sesaat, tak ada reaksi apapun dari keduanya hingga Kayla memutus pandangannya dan melanjutkan tujuannya keluar ruangan dan kembali ke mejanya. 'Ngomong begitu doang, kenapa mesti gue dipanggil sih!' dumel Kayla dalam hati saat melangkahkan kakinya kembali menuju mejanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN