Beberapa Aturan

731 Kata
Beberapa saat kemudian, Grace duduk di kursi makan dengan punggung sedikit membungkuk, matanya tak lepas dari dua piring yang baru saja diletakkan Gabriel di atas meja. Aroma hangat dari masakan itu membuat perutnya yang sejak tadi keroncongan semakin terasa perih. Ia menelan ludah, hampir tidak percaya bahwa dosen dingin yang baru saja membuatnya tersedak air itu, kini duduk di depannya sambil menyilangkan tangan. Gabriel sudah mengenakan kaos longgarnya. Rambutnya masih sedikit lembap, tapi wajahnya kembali kaku, seolah kejadian di dapur tadi tidak pernah terjadi. “Selama kau tinggal di sini,” katanya datar, “kau boleh memakan dan meminum semua yang ada di dapur. Tapi ada satu syarat.” Grace berhenti menggeser garpunya. “Syarat apa?” “Setelah Princess makan.” Gabriel melirik ke arah lorong, seakan memastikan kucing putih itu benar-benar tidak muncul. “Tapi karena dia sudah tidur, kau bisa melewati itu malam ini.” Grace terdiam beberapa detik, lalu senyum kecil muncul di wajahnya. “Terima kasih, Pak,” ucapnya tulus. Perutnya tak memberi waktu untuk sopan lebih lama. Ia segera menyendok makanan itu, menggigit dengan lahap. Rasa hangat dan gurih langsung memenuhi mulutnya, membuat bahunya yang tegang perlahan mengendur. Grace melirik sebentar, mendapati Gabriel juga mulai makan. Saat sendok Grace berhenti di udara, entah kenapa matanya bertemu dengan mata Gabriel. Tatapan itu membuat dadanya berdegup aneh. Ia tersentak, napasnya salah ritme dan lagi, ia tersedak. “Uhuk—uhuk!” Gabriel langsung berdiri, meraih gelas air dan mendorongnya ke arah Grace. “Minumlah,” katanya tegas. Grace meneguknya buru-buru, kali ini berusaha keras agar tidak menyemburkan air lagi. Wajahnya memerah, campuran malu dan kesal. Gabriel menghela napas pendek. “Dan tolong,” tambahnya, “jangan menyemburkan air sembarangan. Kau bukan anak kecil.” Grace ingin membalas. Banyak. Tapi semua kata itu tertahan di tenggorokan. Ia hanya menunduk sedikit. “Baik.” Gabriel lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas yang sudah terlipat rapi. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Grace. “Ini aturan selama kau tinggal di sini.” Grace membukanya perlahan dan membaca: Tidak boleh berantakan. Pakaian kotor langsung dicuci, yang sudah kering langsung dilipat. Tempat sampah harus dibuang meski belum penuh. Tidak boleh mengajak siapa pun datang ke sini. Jangan sampai ada yang tahu kita tinggal seatap. Di kampus, pura-pura tidak saling kenal. Grace mengernyit. “Tapi… kita akan bertemu di kampus.” “Hanya sebatas dosen dan mahasiswa. Tidak lebih.” Ada sesuatu yang terasa berat di dadanya, tapi Grace mengangguk pelan. “Aku mengerti.” *** Grace terbangun bukan karena alarm, melainkan karena sesuatu yang lembut menyapu pipinya berulang kali. “Hm… apaan sih,” gumamnya setengah sadar. Ia membuka satu mata dan langsung berhadapan dengan bulu putih halus serta sepasang mata bening yang menatapnya polos. Ekor indah Princess kembali menyentuh wajahnya. “Princess…” desah Grace. Ia meraih ponsel di samping bantal. Begitu melihat layar, matanya membelalak. “Jam tujuh?!” Dalam sekejap ia bangkit dari tempat tidur. Rambutnya acak-acakan, piyamanya kusut, dan wajahnya masih setengah mengantuk. Dengan refleks, ia mengangkat Princess ke dalam pelukannya lalu berlari kecil keluar kamar. Langkahnya mendadak terhenti. Di ruang tengah, Gabriel sudah berdiri rapi dengan setelan kemeja putih bersih dan jas tipis di lengannya. Rambutnya tertata sempurna, wajahnya segar, sepatu hitamnya mengilap. Kontras sekali dengan kondisi Grace. Grace menelan ludah. “Bapak… mau berangkat sekarang?” tanyanya kikuk. Gabriel menoleh pelan. Tatapannya turun-naik menilai penampilan Grace yang berantakan. Ia menghela napas pendek. “Aku sudah menuliskan jadwal untuk Princess,” katanya datar. “Jadwal makan pagi dan sore, jadwal mandi, waktu bermain, juga jadwal kontrol ke dokter hewan. Semua untuk satu minggu ke depan.” Grace mengangguk cepat, berusaha terlihat siap. Gabriel menyipitkan mata sedikit. “Sebaiknya kau bersihkan wajahmu dulu sebelum memberi makan Princess.” Grace mengernyit, lalu tanpa sadar berjalan ke arah cermin dekat ruang makan. Begitu melihat pantulannya, ia terkejut sendiri. “Ya ampun!” Rambutnya seperti sarang burung. Ada bekas bantal di pipinya. Maskara semalam sedikit luntur di bawah mata. Ia tampak seperti baru selamat dari badai. Sementara Gabriel seperti model iklan parfum pagi hari. Grace buru-buru merapikan rambutnya dengan tangan, wajahnya memanas karena malu. Gabriel lalu berlutut sedikit dan memanggil lembut, “Princess.” Nada suaranya berubah. Ada kelembutan yang jelas terasa. Princess meloncat turun dari pelukan Grace dan berjalan menghampirinya. Gabriel mengelus kepala dan punggung kucing itu dengan penuh perhatian. “Anak baik,” gumamnya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN