Grace keluar dari toilet dengan langkah pelan, wajahnya masih pucat. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok Gabriel.
Ia menemukannya.
Gabriel berdiri di depan sebuah dinding tempat abu disimpan. Tangannya terlipat, kepalanya sedikit tertunduk. Wajah yang biasanya dingin itu kini terlihat… rapuh. Matanya merah, sorotnya kosong, seolah sedang berbicara pada seseorang yang tak lagi bisa menjawab.
Grace melangkah mendekat dengan ragu. Pada plakat kecil di dinding, tertulis:
Mrs. Elaine Cruise
Tanpa sadar, Grace menundukkan kepala. “Semoga arwah Nyonya Cruise tenang di sana,” bisiknya pelan.
Tubuh Gabriel menegang. Ia menoleh cepat, rahangnya mengeras. “Dia bukan ibuku.”
Kalimat itu dingin, menusuk. Tanpa menunggu respons, Gabriel berbalik dan melangkah pergi.
“Pak Gabriel, tunggu!” Grace mengejarnya. “Kalau bukan ibu… adik?” tanyanya ragu. “Wajahnya masih sangat muda.”
Gabriel berhenti sejenak, lalu menggeleng singkat. “Bukan.”
Grace menelan ludah. Dadanya terasa sesak. “Maaf… aku tidak tahu. Aku pikir dia mungkin… kekasih Bapak.”
Gabriel berbalik. Tatapannya tajam, penuh amarah yang tertahan.
“Jangan menebak-nebak jika kau tidak tahu apa-apa.”
Grace terdiam. Namun setelah beberapa detik, ia menarik napas panjang dan berkata dengan suara lirih namun tegas,
“Kalau begitu … apa Bapak akan memberiku nilai tambahan?”
Gabriel menatap Grace lama sebelum akhirnya bertanya dengan suara datar,
“Kenapa kamu begitu yakin pantas mendapat nilai lebih tinggi?”
Grace mengangkat dagu. “Karena saya mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.”
Gabriel menghela napas tipis. “Laporanmu terlalu umum. Analisisnya dangkal. Kamu hanya merangkum, bukan mengkritisi. Itu bukan penelitian, itu salinan rapi.”
Kalimat itu seperti tamparan.
“Apa?” Grace mendengus kesal. “Saya mencari dari semua jurnal yang bisa saya akses! Saya begadang berhari-hari. Itu yang terbaik yang bisa saya lakukan!”
Gabriel menatapnya dingin. “Kalau begitu, berarti batasmu hanya sampai situ.”
Grace berhenti melangkah, wajahnya memerah. “Tidak adil! Hanya karena Bapak merasa itu biasa saja, bukan berarti usaha saya tidak bernilai!”
Mereka kembali berjalan, berdebat tanpa menurunkan suara, kata-kata saling bertabrakan seperti api dan es.
“Nilai bukan soal perasaan,” kata Gabriel.
“Dan belajar bukan soal menyenangkan dosen!” balas Grace.
Mereka menuruni tangga batu menuju pelataran depan pemakaman. Emosi membuat Grace tidak melihat ujung anak tangga yang licin.
Kakinya terpeleset.
“Aah—!”
Dalam sekejap, tangan Gabriel meraih lengannya dan menariknya ke arahnya. Tubuh mereka bertabrakan, terlalu dekat, napas saling bersentuhan.
Grace membeku, jantungnya berdegup liar.
Gabriel juga terdiam, matanya terkunci pada wajahnya.
Waktu seolah berhenti di antara mereka.
***
Jantung Grace masih berdegup kencang saat jarak di antara mereka terlalu dekat untuk disebut wajar. Wajah Gabriel berada hanya beberapa sentimeter darinya. Ia bisa melihat bayangan dirinya di mata pria itu, mata yang biasanya dingin, kini justru memantulkan sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Untuk sesaat dunia seolah berhenti bergerak. Tidak ada suara, tidak ada angin, hanya dua napas yang saling bertabrakan di udara dingin pemakaman.
Degup jantung Grace semakin keras, hampir menyakitkan. Tangannya masih berada dalam genggaman Gabriel, kuat, seakan ia takut benar-benar kehilangannya.
Namun tiba-tiba, sentuhan itu menghilang.
Gabriel melepaskan Grace dengan kasar, membuat gadis itu terhuyung ke belakang. Wajahnya kembali tertutup oleh ekspresi dingin yang sama seperti sebelumnya, seolah momen barusan tak pernah terjadi.
“Apa-apaan itu?” Grace berseru, dadanya naik turun. “Bagaimana kalau aku benar-benar jatuh? Bapak pikir aku kuat menahan diri di tangga licin seperti itu?”
Gabriel tidak menoleh. Ia hanya berbalik dan mulai melangkah menjauh, langkahnya cepat dan tegas, seperti ingin segera keluar dari tempat itu.
Grace tertegun sejenak, lalu mengejarnya. “Pak Gabriel! Kita belum selesai! Saya belum mendapatkan jawaban!”
Namun Gabriel tetap berjalan menuju parkiran, tak sedikit pun memperlambat langkahnya. Wajahnya keras, rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertengkaran tentang nilai.
Grace mengikuti di belakangnya, kata-katanya mengalir tanpa henti. Ia menuntut, memohon, menjelaskan kembali betapa pentingnya nilai itu baginya, betapa ia tidak bisa kehilangan beasiswanya. Namun semua itu seakan menabrak tembok tak terlihat di sekeliling Gabriel.
Sesampainya di mobil, Gabriel membuka pintu pengemudi dan langsung masuk. Grace refleks ikut membuka pintu penumpang, tetapi bunyi klik terdengar lebih dulu. Mobil itu telah terkunci dari dalam.
“Pak Gabriel!” Grace mengetuk kaca, jantungnya kembali berdetak kencang. “Jangan seperti ini! Kita belum selesai!”
Gabriel menatap lurus ke depan selama beberapa detik, lalu menekan tombol jendela hingga kaca itu turun setengah. Tatapannya tetap dingin, seperti pria yang sama yang pertama kali ia temui di ruang kelas.
“Kau bisa pulang naik bus,” katanya singkat.
Grace membeku. “Apa?”
Namun Gabriel tidak menjawab. Ia menaikkan kembali kaca jendela, menyalakan mesin, dan melajukan mobilnya pergi, meninggalkan Grace berdiri sendiri.
Grace mematung, matanya mengikuti mobil itu hingga menghilang di tikungan. Dadanya terasa sesak, ia menunduk, menahan geram. Tangannya mengepal dengan kencang.
“DASAR DOSEN KILLER!”
Teriakan Grace menggema, membuat burung gereja yang bertengger langsung berterbangan terkejut.