Episode 1

2296 Kata
Rumah Rani Di pagi hari, saat cuaca sedang hujan. Ada gadis gendut yang dari tadi tidak berhenti menghela nafas. Karena dia terus mengeluh tidak bisa berangkat bekerja. Ya dia, Melodi Maharani. Rani terus mengeluh, tanpa sengaja di dengar Ibunya yang sambil memasak di dapur, Ibu Rani pun bertanya, kepada anak gadis gendutnya dengan penuh kasih sayang. "Kenapa Nak! Dari tadi mengeluh terus??" tanya bu Asih. Yang di tanya malah merajuk, seperti kayak anak kecil. " Rani nggak bisa kerja Buu... Hujannya deras? Kapan, berhentinya?" Jawab Rani, sambil merengek dan mengerucutkan bibirnya. Bu Asih yang mendengar itu cuma bisa tersenyum kecil, lalu bu Asih membalas rengekan anak semata wayangnya, dengan sambil memasak. "Meminta izin Nak! Kalau memang tidak bisa kerja. Tapi kalau memaksakan diri kerja, 'kan ada payung Nak. Cuma Ibu nggak mau, kamu kedinginan dan asma kamu kambuh, lho ya" ujar bu Asih mengingatkan. Rani makin cemberut, karena Ibunya mengingatkan akan keadaannya. Ya, walaupun kadang orang disekitarnya tidak tahu. Kalau ia mempunyai penyakit asma, yang selama ini di deritanya. Namun yang membuat Rani kepikiran saat ini, kalau ia tidak masuk kerja 'kan sayang. Karena ia berpikir kalau dengan masuk kerja setiap hari, nanti kalau gajian. Uangnya pasti utuh, karena gajinya tidak kurang. Uang Itu pasti bisa cukup untuk keperluan Rani, dan Ibunya. Ia juga bisa membantu kebutuhan di dapur. Karena ia tidak mau, Ibunya merasakan kekurangan apapun itu. Makanya selama ini, ia selalu bekerja keras. Sebab Ayah Rani sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Jadi semua kebutuhan Dia dan Ibunya, serta kebutuhan lainnya, menjadi tanggung jawabnya hingga saat ini. Bu Asih, sekarang sudah tidak bekerja lagi. Namun itu tak masalah bagi Rani selama ia mampu, maka dia akan melakukan semua pekerjaan dengan semangat asal pekerjaan yang dilakukan selama itu halal. Melodi Maharani adalah anak yatim, sebab Ayahnya telah meninggal. Ayahnya bernama Renaldi dan Ibunya bernama Setiasih. Kedua orang tua Rani adalah orang biasa, dulu sewaktu Ayahnya masih hidup. Ayahnya bekerja sebagai buruh pabrik, sedang kan Ibunya bekerja sebagai pegawai di penjaga toko roti. Tapi setelah Ayah Rani meninggal, Ibunya sudah tidak bekerja di toko roti lagi. Sekarang bu Asih, menjadi Ibu rumahan saja. **** Dilain tempat Tepatnya, di kota besar Benua Eropa. Telah terjadi pertempuran besar, dari sesama Kelompok MAFIA. Suara tembakan terdengar dimana-mana, namun tidak ada yang mau berhenti sebelum ada pemenangnya. Lima belas menit kemudian, Kelompok MAFIA BLACK WINGS. Memenangkan pertempuran itu, dengan munculnya Ketua dari mereka. Sosok itu begitu tampan, namun terlihat kejam serta sadis. Dia tidak pernah memberi ampun, bagi siapa saja yang mengusik ketenangannya, Maupun miliknya. Sosok itu mulai berjalan meninggalkan, tempat pertempuran tersebut dengan gaya arogannya. Dengan pandangan datar dan dingin, terlihat di wajah tampannya sama sekali tidak pernah adanya senyuman. Dia juga selalu menginginkan, dan memenangkan setiap pertempuran saat melawan para musuh-musuhnya. Dia adalah Juan Alexander, dia selalu bersemangat saat berperang, bahkan sifat Arogan serta sadis-nya sudah terkenal dalam dunia bawah tanah. Saat dalam perjalanannya, dia selalu di kawal oleh banyaknya bodyguard yang tidak lain adalah anak buahnya. Bodyguar-bodygurd itu sudah sangat terlatih, baik dalam segi bela diri maupun menembak. Sebelum dia, masuk kedalam mobil lamborgini super mewahnya. Dia berbicara pada tangan kanannya, Robert yang tidak lain adalah orang kepercayaannya. "Persiapkan, keberangkatanku!" titah juan dingin. "Baik, Tuan." Jawab Robert, sambil membungkuk hormat. Juan pun mulai memasuki mobilnya, dia duduk dengan bak seorang raja. Setelah memastikan tuannya telah duduk dengan nyaman, Robert menutup pintu lalu membuka pintu samping kiri mobil dan duduk disebelah supir. Supir pun melihat dengan hati-hati, setelah memastikan tuannya sudah siap supir pun mulai melajukan mobil yang dikendarainya. Juan Alexander, adalah anak tunggal dari pasangan, Max Alexander dan Julia Alexander. Mereka adalah seorang Billioner, yang sangat kaya raya. Mereka sangat menyanyangi putra tunggalnya, apalagi saat keduanya dikaruniai seorang bayi laki-laki keduanya sangat bahagia. Namun kedua orang tuan Juan, sudah meninggal. Karena dibunuh oleh pembunuh bayaran, yang menginginkan hartanya disaat Juan masih kecil. Mulai kecil, orang tua Juan. Selalu memenuhi apa yang di inginkan oleh putranya. Apapun yang diinginkan harus Juan dapatkan, maka disaat Juan dewasa seperti sekarang ini. Juan menjadi sosok laki-laki yang arogan sekaligus sadis, tidak mengenal ampun bagi yang mengusik miliknya, atau kesenangannya. Juan Alexander juga, adalah laki-laki yang suka berfoya-foya. Dan suka main perempuan. Namun dibalik itu semua dia tidak pernah merasakan namanya jatuh cinta, pada seseorang pun hingga saat ini. Ya, meskipun sekarang Juan sudah punya kekasih. Yang sangat cantik, dan dipuja banyak laki-laki. Tetapi dia tidak pernah merasakan jatuh cinta, meskipun pada kekasihnya sendiri. Juan memperlakukan kekasihnya bagai seorang ratu, dia selalu menuruti semua kemauan kekasihnya. Walaupun sesungguhnya, yang melakukan itu semua adalah para bodyguardnya. Bukan Juan sendiri, walaupun dia menuruti kemauan kekasihnya, apa pun itu kecuali saat kekasihnya mengajak bercinta. Setiap kekasihnya meminta untuk bercinta dengannya, dia tidak akan pernah mau menurutinya. Tapi lain halnya saat diluar sana, Juan dengan senang hati bergonta-ganti wanita. Tentunya yang masih virgin, dan itu untuk memenuhi hasratnya. Juan melakukan itu setiap hari dengan wanita yang berbeda. Karena banyaknya wanita, yang mau melakukan tanpa Juan minta. Para wanita cantik itu, melemparkan dirinya dengan senang hati. Hanya untuk mendapatkan perhatian dan hati dari sang Juan Alexander, yang tampan dan kaya raya siapa yang tidak mau. **** Rumah Rani Rani tetap memaksakan berangkat bekerja, ia tidak mau bolos kerja meski hujan masih terlihat lebat. Sebab ia ingin, bila saat gajian nanti. Gajinya tetap utuh, itu yang selalu ada dalam pikiran Rani. Sebelum berangkat kerja, Rani menyempatkan sarapan sama Ibunya. Dengan makanan yang sederhana, namun baginya itu lebih dari cukup. "Ibu, Rani berangkat kerja dulu, ya? Ibu hati-hati di rumah....Assalamualaikum" Pamit Rani mengingatkan, sambil mencium pipi Ibunya. "Waalaikum salam... Iya, kamu juga hati-hati, ya. Jangan lupa pakai jaket yang tebal, biar kamu tidak kedinginan, Sayang," nasehat bu Asih, sambil membetulkan letak jaket yang putrinya pakai. "Iyaaa.... Ibuku, Sayang," jawab Rani, sambil bergegas keluar rumah, dengan menggunakan payung yang lumayan besar. Ia menerobos hujan, menuju halte yang tidak jauh dari rumahnya. Setiap hari, Rani selalu berjalan kaki menuju halte terdekat. Untuk menunggu kendaraan umum, meskipun kadang ia sedih. Bila setiap ia naik kendaraan umum, selalu banyak orang yang menatapnya dengan pandangan menghina. Ada juga, yang tiba-tiba menyindir karena membuat sesak mobil saja. Namun Rani tetap diam, ia selalu membesarkan hatinya agar tidak tersulut emosi. Karena mau bagaimana lagi jika tidak naik kendaraan umum, ia harus menggunakan taxi. Ia tidak mau naik taxi, karena pengeluaran uangnya akan banyak dibandingkan naik angkutan umum yang sedikit lebih murah. Saat Rani tengah asik menunggu kendaraan umum sambil melamun,tanpa sadar ia dikagetkan, dengan suara klapson mobil angkutan umum buru-buru ia naik. Sesampai ditempat kerja, tepatnya di restoran mewah. Rani langsung berganti baju, lalu memulai aktifitasnya seperti biasa. Walaupun ia gendut, namun ia cukup cekatan, dalam melayani pengunjung restoran. Setiap Rani melayani pengunjung restoran, ia selalu tersenyum. Karena ia tidak mau, saat orang yang bertemu dengannya dan melihatnya. Akan tambah jelek mengingat ia, yang sangat gendut dan sedikit jerawatan. Saat jam istirahat kerja, teman sekaligus sahabatnya. Yang bekerja ditempat di tempat yang sama dengannya. Tiba-tiba menelfon, meminta tolong menggantikan sift kerjanya lewat ponsel jadulnya. 'Derrttt!' Talita "Hallo! Assalamualaikum, Ta. Kenapa menetelfon?" Rani menjawab, telfon sahabatnya "Waalaikum salam... Maaf mengganggu kamu, Ran. Boleh tidak aku minta sama kamu?? " Talita bicara, ingin meminta tolong. "Ohh... Iya boleh, ada apa ya? Kenapa kamu, kok tidak masuk kerja," tanya Rani. "Hmmm... Aku lagi nggak enak badan, nih. Lemes banget, jadi minta izin kerja tadi sama Manager," jawab Talita, dengan suara seraknya. "Gitu, ya. Bisa kok aku gantiin sif kamu, semoga lekas sehat,ya. Hem, udahan dulu ya, soalnya mau lanjut kerja lagi, nih," ujar Rani. "Iya! Maksih, ya," jawab Talita. Setelah mematikan ponselnya, Rani mulai melakukan pekerjaannya kembali. Dengan cekatan ia bekerja, ia begitu semangat. Apalagi hari ini, ia akan melakukan pekerjaannya, hingga sampai malam. Ya, hari ini ia akan menggantikan sift sahabatnya yang lagi sakit. Ia pun akan bekerja lebih semangat lagi, dan entah mengapa ia merasa sangat bahagia. Bagaimana tidak bahagia karena ia berpikir, kalau nanti gajian uangnya akan bertambah. Dengan uang itu ia bisa memenuhi kebutuhannya, serta kebutuhan Ibunya, dan sisa uangnya akan ia tabung. **** DiLain Tempat Juan tengah sibuk memeriksa beberapa dokumen penting, meski saat ini ia berada dalam jet pribadinya. Namun ia tidak melupakan rutinitasnya sebagai seorang pengusaha, selain pekerjaan yang lain. Walaupun Juan Ketua Mafia, ia tidak pernah melupakan akan tanggung jawabnya pada perusahaannya dan usahanya yang lain. Ia selalu mengikuti perkembangan perusahaannya, serta usahanya yang lain. Bukan hanya satu, tapi beberapa perusahaan. Seperti restoran mewah, mall-mall besar dan juga perusahaan otomotif mobil mewah. Semua ada, diberbagai negara. Termasuk di kota, yang akan ia tinggali nanti. Juan meletakkan dokumen, yang sudah di tanda tangani dan sudah ia periksa. Dengan cepat ia memanggil Robert sang tangan kanannya. "Aku, butuh wanita!" ucap Juan datar. "Baik, Tuan," Robert, menjawab dengan sopan. Setelah mendapatkan perintah Robert, langsung membawa gadis cantik, sexy dan jangan lupakan pakaian kurang bahannya. Yang akan, memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tentu saja, mengundang bagi kaum laki-laki untuk menyentuh wanita itu. Robert, terus berjalan sambil menuntun langkah gadis itu ke hadapan Tuannya. Setelah gadis itu berada dihadapan Juan, tidak mau menunggu lama. Ia langsung mencium, dan menyentuh semua bagian tubuh gadis yang memakai pakaian kurang bahan itu. Lalu membawa ke dalam kamar kabin pesawat jet pribadi tersebut, saat didalam ia menutup pintu, menggunakan kakinya. Tanpa mau melepaskan tautan ciumannya, Juan membawa gadis sexy itu, ketempat tidur dan seterusnya hanya desahan yang terdengar. Dalam kamar, kabin pesawat jet tersebut. ***** Sudah hampir jam 22.00 malam, Rani belum juga pulang kerja. Karena ia, hari ini menggantikan sift temannya. Yang izin tidak masuk kerja, karena sakit. Jadi seharian ini, ia bekerja keras. Namun itu, tidak membuat ia lelah. Justru dia tersenyum ceria, karena hari ini ia kerja dobel. Yang artinya nanti, saat gajian uangnya bertambah. Saat dalam perjalanan pulang, Rani tidak sengaja melihat Bapak tua, yang akan menyeberang jalan. Rani langsung berlari, menuju Bapak tua itu. Sebelum tertabrak, karena ia melihat Bapak tua itu, kesulitan menyeberang sendiri. Namun terlambat, karena jaraknya yang sangat jauh. Dari Bapak tua itu, Rani melihat Bapak tua itu terserempet mobil. "Bapak, tidak apa-apa?" tanya Rani,penuh rasa khawatir di wajahnya. "Ohh! Tidak apa-apa, Nak. Cuma lecet sedikit, terima kasih. Sudah menolong, Bapak." jawab Bapak tua tulus. Saat dalam pembicaraan antara, Bapak Tua dan Gadis gendut itu. Ada sosok, yang memperhatikan mereka dari dalam mobil yang tidak jauh dari mereka. Bahkan sosok itu, bisa tersenyum. Ya, walaupun sedikit. Namun jika ada yang melihat, mungkin tidak akan yakin kalau sosok itu tersenyum. Karena selama ini, dalam kesehariannya sosok itu tidak pernah tersenyum. Ya, sosok itu tidak lain adalah Juan Alexander. Juan saat itu, akan pergi ke club malam mewah yang berada di kota itu. Ya, hari ini ia baru sampai dikota yang ia datangi sekarang. Dalam perjalanan saat lampu merah, mobil mewah miliknya berhenti. Saat Juan mengedarkan pandangannya, ia tidak sengaja melihat gadis gendut. Yang memakai pakaian tebal, dan menutupi badan besarnya. Gadis gendut itu terus berlari dengan sangat kencang, menghampiri Bapak tua. Yang akan menyeberang jalan, Juan melihat itu langsung tersenyum. Karena merasa lucu akan tingkah gadis gendut yang dilihatnya, apalagi saat ia melihat ketulusan dari gadis gendut itu. Apalagi saat membantu, Bapak tua yang tidak bisa menyeberang jalan sendiri. Entah mengapa, Juan merasa tersentuh hatinya akan ketulusan gadis gendut itu. Hingga membuat hati Juan menghangat, dan senyuman tulus terlihat dari wajah tampannya. Tanpa mereka tahu, takdir telah memberi celah dalam pertemuan tak sengaja itu. Ya, walaupun saat ini Juan saja yang memperhatikan gadis gendut itu. Walaupun saat ini, Juan tidak mengartikan apa-apa. Tapi saat melihat interaksi antara gadis gendut itu, dengan Bapak tua membuat ia merasakan sesuatu yang berbeda dengan hatinya. Lampu hijau pun menyala, supir langsung melajukan mobil mewah Juan menuju club malam. Dengan kecepatan maksimal seketika itu, membuat Juan tersadar dari lamunanya dan bayangannya akan gadis gendut yang ia lihat. Seketika saat mobil belum jauh Juan pun menoleh ke belakang, lalu memperhatikan gadis dendut itu menuntun Bapak tua itu sekali lagi. Hinggga akhirnya, Juan tidak melihat lagi Gadis gendut itu lagi, karena mobil yang ia tumpangi sudah melaju sangat jauh. Di belakang mobil Juan, masih ada mobil yang tak kalah mewahnya. Semua berisikan para bodyguard, yang sudah sangat terlatih. Untuk senantiasa mengawal Tuannya, kemanapun Tuannya pergi. Saat sampai di club malam, Juan langsung menuju bartender. Ia memesan minuman ringan, karena malam ini ia tidak mau mabuk. Ia pergi ke club cuma ingin tahu, suasana club malam di kota yang baru ia datangi.. Juan melihat banyak wanita malam, yang berlomba mencari perhatiannya. Namun sama sekali ia tidak mau memandang, karena ia sama tidak bernapsu walau hanya sekedar melihat wajah cantik mereka. Juan merasa aneh, dengan dirinya sendiri. Padahal selama ini, ia akan selalu menghabiskan waktu malam nya, dengan minum lalu bercinta apalagi kalau sudah masuk ke dalam club malam. Ia dengan senang hati akan menerima dengan suka rela mereka dalam pelukannya, bahkan menikmati tubuhnya. Tapi tidak untuk malam ini, bahkan mungkin malam-malam berikutnya. Mungkin ini efek, dari saat Juan melihat gadis gendut itu. Tapi ia belum menyadari, perasaannya itu. Para wanita malam masih terus, meneriakkan kata merayu padanya dan ingin mendekatinya. Namun, Juan masih tidak bergeming dari duduknya dengan tenang, ia terus meminum minumannya. Sebab para bodyguardnya, senantiasa berada disamping kanan kirinya. Untuk senantiasa menjaga keamanan dan kenyamanan tuannya. Makanya para wanita malam itu, tidak bisa mendekatinya. Karena Juan sudah merasa muak dengan teriakan para wanita yang tidak mau berhenti menggodanya dan suasana club malam yang terlalu bising di telinganya, ia pun pergi dari club itu dengan pengawalan ketat dari para bodyguardnya. Untuk pertamakalinya, Juan pulang lebih awal dari biasanya. Saat berada dalam club malam, dan untuk pertama kalinya ia merasa muak saat melihat wanita-wanita berpakaian sexy dan bermake tebal. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN