“Min-Ah ssi, sebaiknya pinggiran topimu diturunkan sedikit lagi. Wajahmu harus tertutup,” perintah Lee Do-Yun.
Mandy bergumam tidak jelas, menyerahkan ponsel yang dipegangnya kepada Kang Ha-Neul, lalu menarik turun topi merahnya.
“Kalau begini aku sendiri tidak bisa melihat apa-apa,” desahnya. “Paman sebenarnya ada di mana? Dia sedang meneropong kita atau semacamnya?”
Ia dan Kang Ha-Neul sedang berada di dalam mobil Kang Ha-Neul yang diparkir di lapangan parkir depan gedung tempat Lee Do-Yun bekerja. Saat itu pukul sepuluh malam dan suasana di tempat parkir sepi sekali. Kang Ha-Neul yang mengenakan topi hitam dan kacamata hitam duduk di balik kemudi, Mandy duduk di sampingnya, sementara Lee Do-Yun mengawasi mereka entah dari mana. Semua komunikasi dilakukan lewat ponsel. Mereka sudah siap menjalankan tahap pertama rencana.
Kang Ha-Neul menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sudah bisa dimulai.”
Ia menutup ponsel dan memandang Mandy yang sedang merapikan kepang rambutnya. “Sekitar semenit lagi kita keluar,” katanya pendek.
“Jadi kita hanya perlu keluar dari mobil, bergaya sebentar, lalu masuk kembali ke mobil?” tanya Mandy memastikan.
Kang Ha-Neul mengangguk. Ia diam, lalu, “Nah, sepertinya Hyong sudah siap dengan kameranya. Kita keluar sekarang.”
Mereka berdua keluar dari mobil dan mulai berjalan berdampingan.
“Kenapa jauh begitu?” tanya Kang Ha-Neul.
Mandy menoleh dan menyadari Kang Ha-Neul sedang mengomentari jarak antara mereka berdua yang terlalu jauh. “Kenapa? Kurasa ini sudah cukup dekat.”
“Orang-orang tidak akan percaya aku punya hubungan khusus denganmu kalau kau berdiri sejauh itu.”
Mandy berhenti berjalan dan memutar tubuh menghadap Kang Ha-Neul. “Menurutku seperti ini juga sudah lumayan. Kita tidak perlu sampai berpelukan supaya orang percaya kita punya hubungan khusus, kan?”
Kang Ha-Neul tertawa pendek. “Apanya yang lumayan? Tubuhmu kaku begitu dan jalanmu seperti robot.” Mandy tetap diam. Kang Ha-Neul balas menatapnya, lalu berkata, “Kita harus melakukan sesuatu.”
Mandy terkejut ketika Kang Ha-Neul melangkah mendekati dirinya.
“Mau apa kau?” tanyanya, tapi saking gugupnya ia tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri. Kang Ha-Neul berdiri tepat di depannya. Mandy baru menyadari betapa dirinya begitu pendek dibandingkan pria itu. Kepalanya sampai harus mendongak kalau ia mau melihat wajah Kang Ha-Neul.
“Hei, Kang Ha-Neul ssi, kau sebenarnya mau apa?” tanya Mandy sekali lagi ketika setelah beberapa saat Kang Ha-Neul hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Ia tidak bisa melihat ekspresi Kang Ha-Neul dengan jelas karena laki-laki itu memakai kacamata hitam, tapi Mandy bisa melihat bibir pria itu membentuk seulas senyum.
“Aku? Hanya memberikan pose yang bagus untuk foto kita,” katanya santai, lalu ia mundur kembali.
Mandy mendengus pelan. “Lucu sekali.”
“Misi selesai,” kata Mandy ketika mereka sudah duduk kembali di dalam mobil. “Hhhh ... lelahnya. Benar-benar pekerjaan yang berat.”
Ha-Neul tersenyum kecil mendengar gurauan Mandy. Ternyata gadis ini bisa bercanda juga. Ha-Neul yakin sebenarnya Mandy orang yang ramah, meski saat ini gadis itu lebih sering bersikap kaku dan menjaga jarak, bahkan terkadang cenderung dingin. Bagaimanapun hal itu wajar saja mengingat mereka tidak terlalu saling mengenal.
“Aku merasa seperti sedang main film,” Mandy menambahkan. “Mungkin seharusnya aku jadi aktris saja. Bagaimana menurutmu?”
“Teruslah bermimpi,” sahut Ha-Neul sambil menghidupkan mesin mobil.
Saat itu terdengar dering ponsel. Mereka berdua serentak mencari ponsel mereka. Yang berdering ternyata ponsel Ha-Neul.
“Sebaiknya kauganti nada dering ponselmu,” gerutu Mandy sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku celana.
“Kenapa harus aku? Kau saja yang ganti,” kata Ha-Neul sebelum menjawab teleponnya. “Ya, Hyong ... Sudah?”
Tiba-tiba ponsel Mandy berdering juga. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Mandy langsung menjawab teleponnya. “Halo?”
Ha-Neul melihat gadis itu mendesah dan melepaskan topi merahnya. Siapa yang meneleponnya? Lamunan dalam benaknya buyar ketika ia sadar Lee Do-Yun berulang kali menyebut namanya di telepon.
“Eh, apa, Hyong? ... Oh, oke. Sampai jumpa besok,” kata Ha-Neul sebelum menutup ponsel.
“Aku? Sekarang? Sedang di luar,” kata Mandy dengan nada santai.
Ha-Neul memerhatikan alis Mandy terangkat ketika gadis itu mendengarkan jawaban orang di seberang sana.
“Sebentar lagi juga akan pulang. Kalau ada yang perlu dibicarakan, bicarakan nanti saja. Aku sekarang sedang sibuk. Tutup dulu ya.” Mandy langsung menutup teleponnya.
“Telepon dari siapa?” tanya Ha-Neul sambil lalu.
Mandy menoleh ke arahnya. “Teman,” sahut gadis itu pendek, Ialu mengalihkan pembicaraan. “Kita sudah selesai sekarang? Paman bilang apa tadi?”
Ha-Neul memandang Mandy dengan kening berkerut. “Paman?” tanyanya heran. “Kenapa kau memanggil Hyong ‘paman’? Dia kan belum setua itu. Kalau aku sih tidak akan sudi dipanggil ‘paman’.” Mandy baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika Ha-Neul menambahkan, “Tapi terserah kau sajalah. Panggil saja dia ‘paman’ atau apa pun sesukamu. Hyong tidak akan keberatan. Dia bukan orang yang suka ambil pusing untuk masalah seperti ini. Asal kau tidak memanggilnya ‘Eonni*’ saja.”
Mandy menarik napas dan berdeham “Jadi Paman bilang apa tadi?” tanyanya sekali lagi.
“Katanya mungkin lusa foto-foto itu akan muncul di internet,” jawab Ha-Neul. Namun kemudian perkataannya selanjutnya seakan ditujukan kepada dirinya sendiri, “Harus lagi-lagi siap menghadapi wartawan. Tapi setidaknya reputasiku akan kembali seperti dulu ...”
Ha-Neul menoleh dan mendapati Mandy sedang menatapnya dengan pandangan aneh. “Apa? Ada apa?”
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Mandy agak ragu.
“Apa?”
“Sebenarnya ... kau gay atau bukan?”
Ha-Neul melepas kacamatanya dan menatap Mandy dengan kesal. Tanpa menunggu jawaban, Mandy mengibaskan tangan. “Oh, baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Kau gay atau bukan juga bukan urusanku.”
Seperti rencana Lee Do-Yun, hari Senin pagi foto-foto mereka sudah mucul di media online. Mandy baru memasuki ruang kuliah ketika Han Eun-Ji berlari ke arahnya.
“Hei, Shin Min-Ah!” seru Eun-Ji dengan suara menggelegar.
Mandy mengerjapkan matanya dengan bingung, lalu setelah pulih dari kekagetannya, ia menggerutu, “Sudah kubilang berkali-kali jangan panggil nama lengkapku seperti itu. Memangnya ‘Mandy’ terlalu susah diucapkan?”
“Dan sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak suka nama yang kebarat-baratan,” balas Eun-Ji lalu melanjutkan, “Sekarang itu bukan masalah penting. Lihat ini!” Ia melambai-lambaikan tabletnya tepat di depan wajah Mandy.
“Apa ini?” tanya Mandy. Ia harus mundur selangkah supaya bisa melihat jelas apa yang ingin diperlihatkan temannya itu.
“Kang Ha-Neul ternyata punya pacar!” kali ini seruan Eun-Ji begitu keras sampai-sampai Mandy terlompat kaget.
Mandy melihat headline kanal berita itu dan menahan napas. Ia membaca judul utamanya “KANG HA-NEUL DAN KEKASIH WANITA?” dicetak dengan ukuran besar. Di bawah judul itu ada tiga fotonya bersama Kang Ha-Neul. Foto-foto itu agak buram, tapi kenapa Mandy merasa dirinya terlihat begitu jelas?
Foto pertama memperlihatkan mereka berdua di dalam mobil. Kang Ha-Neul sedang memegang kemudi dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Mandy sendiri juga sedang memandang pria itu dengan kepala dimiringkan sehingga wajahnya tertutup topi merahnya. Kapan mereka berpose seperti itu? Mandy sendiri tidak ingat.
Foto yang kedua diambil ketika mereka berjalan bersama. Foto itu diambil sedikit menyamping sehingga Mandy agak tertutup tubuh Kang Ha-Neul. Mandy memerhatikan foto itu dan mengerutkan kening. Seingatnya mereka tidak berdiri sedekat itu, tapi mungkin arah pengambilan fotonya yang menyebabkan mereka terlihat dekat.
Foto ketiga adalah saat Kang Ha-Neul berdiri tepat di depannya dan begitu dekat, Mandy sendiri berdiri tegak dengan kepala mendongak memandangnya. Lagi-lagi sudut pengambilan foto membuat foto itu terlihat bagus sekali dan wajah Mandy agak tertutup. Ditambah lagi Kang Ha-Neul sedang tersenyum dalam foto itu. Mau tidak mau Mandy kagum pada Lee Do-Yun. Ternyata Paman pintar memotret.
“Kau lihat? Sudah lihat?” Eun-Ji jelas-jelas terlihat kesal dan sedikit histeris. “Ternyata selama ini Kang Ha-Neul sudah punya kekasih. Siapa wanita itu? Artis? Kau tahu tidak, semua penggemarnya sedang shock saat ini.”
Mandy agak lega karena Han Eun-Ji tidak menyadari bahwa dirinyalah yang ada di dalam foto bersama Kang Ha-Neul. Ia menutup kembali kanal berita online itu, mengembalikan tablet itu kepada Eun-Ji, lalu berkata,
“Kenapa kesal? Bukankah ini malah membuktikan Kang Ha-Neul bukan gay?”
Eun-Ji terdiam dan menimbang-nimbang. “Tapi kalau melihat dia dengan wanita lain, rasanya hatiku ... aduh,” katanya dengan wajah memelas. Mandy tertawa geli. “Tapi ... mungkin juga gadis ini bukan kekasihnya,” kata Eun-Ji tiba-tiba.
“Memangnya apa yang membuatmu berpikir begitu?”
“Bisa saja kasusnya sama dengna kasusmu waktu itu. Kang Ha-Neul hanya mengantarmu dan tidak ada hubungan apa-apa di antara kalian. Lagi pula semua orang tahu wartawan suka membesar-besarkan masalah.”
Mandy cepat-cepat menoleh dan mendapati sahabatnya sedang memandangnya yakin. “Tapi menurutku yang ini memang benar. Di artikel ini bahkan juga tertulis ada sumber terpercaya yang menyatakan Kang Ha-Neul memang sudah punya pacar, kan? Lagi pula kalau dipikir-pikir, bukankah ini hal yang baik? Maksudku, bagi penggemar sepertimu, yang paling penting kan Kang Ha-Neul bukan gay alias suka Wanita ...”
Karena ekspresi kecewa Eun-Ji belum berubah, Mandy menambahkan, “Kau juga tidak perlu histeris begitu. Kalaupun wanita di foto ini memang pacarnya, masih ada kemungkinan mereka berpisah. Kau berdoa saja supaya mereka cepat berpisah.”
“Kau bisa berkata seperti itu karena kau bukan penggemarnya! Aku penasaran sekali siapa wanita itu. Di sini juga tidak diceritakan siapa dia ...” Eun-Ji mengembuskan napas panjang. Mendadak dia menepuk tangan dan berkata penuh semangat, “Tapi kau benar. Tidak apa-apa, sebentar lagi pasti ketahuan. Dia harus putus dengan Ha-Neul oppa*-ku!”
Mandy geleng-geleng menahan geli. Tapi sebelum senyumnya mereda, Eun-Ji sudah berkata lagi, “Tapi ada yang aneh. Coba lihat foto-foto ini, Min-Ah. Kenapa mereka berdua tidak bersentuhan? Mungkin memang bukan hal penting, tapi maksudku, orang pacarana bukannya suka berpegangan tangan kalau berjalan bersama?”
***
Kang Ha-Neul sedang berada di kantor Lee Do-Yun. Ia memegang tablet yang memuat foto-fotonya bersama Mandy.
“Hyong ternyata pandai memotret,” kata Ha-Neul sambil tersenyum.
Lee Do-Yun hanya mengangkat bahu menerima pujian itu. “Menurutku rencana kita cukup sukses karena sejak pagi kantor kita sudah dibanjiri telepon yang meminta kepastian dan wawancara denganmu.”
“Dia sudah melihat ini atau belum ya?” tanya Ha-Neul sambil meletakkan tablet itu di atas meja.
“Min-Ah ssi? Seharusnya sudah karena orang-orang juga akan membicarakan-nya,” sahut Lee Do-Yun. Ia meraih tablet itu dan mengamati foto-foto Ha-Neul dan Mandy. “Dia melakukannya dengan baik sekali, kan? Gadis yang tenang, mudah diajak kerja sama. Bagus juga dia bukan salah satu penggemarmu, jadi dia tidak histeris atau semacamnya.”
Ha-Neul hanya mengangkat bahu. Lee Do-Yun berkata pelan seperti merenung. “Ya, gadis yang tenang. Bahkan mungkin terlalu tenang ... Tidakkah menurutmu dia terlalu mudah menyetujui permintaanmu?”
Ha-Neul mengangkat bahu lagi. “Tidak juga,” jawabnya.
“Dia tidak minta imbalan apa pun?” tanya Lee Do-Yun lagi.
Ha-Neul mengingat-ingat. “Tidak.”
“Aneh,” gumam Lee Do-Yun. Setelah berkata seperti itu, telepon di meja kerjanya berdering.
Sementara manajernya menjawab telepon, Kang Ha-Neul menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia menelepon Mandy. Tak berapa lama akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan menekan angka sembilan.