Bertemu Kembali dengan CEO Kevin

2171 Kata
Setelah sekitar tiga puluh menit berkendara, Rolls-Royce akhirnya berhenti di depan gedung pencakar langit Aurellion Group. Kaca-kaca gedung yang mengkilap memantulkan sinar matahari yang sudah mulai terik. Pak Diman membuka pintu dengan hati-hati. “Mohon maaf, Non Kesya. Jalanan agak macet,” ucapnya sambil membantu Kesya turun. “Itu tidak apa-apa, Pak Diman. Terima kasih sudah mengantar,” jawab Kesya dengan senyum hangat. Ia melihat sekeliling, rasa kagum dan sedikit gugup menyelimuti dirinya. Gedung ini jauh lebih megah dari yang ia bayangkan—tiap sudutnya mengeluarkan aura kepercayaan diri dan keberhasilan. Ia berjalan menuju pintu masuk, tas Hermès di lengannya terasa lebih berat dari biasanya. Di dalam lobi, interior dengan tema putih dan perak membuat ruangan terlihat luas dan modern. Beberapa orang dengan seragam kantor rapi sudah mulai berkeliaran, sebagian lagi duduk di area tunggu sambil memeriksa ponsel atau berbicara dengan rekan kerja. Kesya mengeluarkan surat pemberitahuan magang dari dalam tasnya, lalu mendekati meja resepsionis. Wanita muda di sana memberikan senyum profesional. “Selamat pagi, mbak. Boleh tahu ada yang bisa saya bantu?” “Pagi juga. Saya Keshara Ayudya Prameswari, baru mulai magang hari ini di divisi Corporate Strategy,” ucap Kesya dengan suara yang jelas namun sedikit gemetar. Wanita itu mengetik cepat di komputer, lalu mengangkat kepalanya dengan senyum yang lebih lebar. “Baik, Non Keshara. Silakan naik lift ke lantai 28. Bu Ratih akan menunggu Anda di depan ruangan divisi. Ini kartu akses Anda.” Kesya menerima kartu kecil berwarna putih dengan tangan yang sedikit gemetar. “Terima kasih banyak.” Saat lift naik perlahan, hati Kesya berdebar kencang. Ia mengingat pesan papa tadi jangan malu bertanya, bilang kalau ada yang tidak beres. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Begitu pintu lift terbuka, seorang wanita berusia sekitar 30-an dengan rambut hitam yang diikat rapi langsung menghampirinya. “Keshara, ya?” tanyanya dengan senyum ramah. “Saya Ratih, asisten kepala divisi. Selamat datang di Aurellion Group.” “Halo, Bu Ratih. Terima kasih sudah menunggu,” jawab Kesya dengan sopan. “Mari saya bawa Anda melihat tempat kerja Anda dulu. Besok akan ada orientasi resmi untuk semua magang, tapi hari ini saya akan memperkenalkan Anda dengan beberapa rekan kerja dan memberikan tugas pertama Anda.” Dalam perjalanan menuju meja kerja yang sudah disiapkan untuknya, Kesya melihat beberapa orang sedang sibuk bekerja. Suasana kantor terasa sangat profesional namun tidak terlalu kaku ada yang tertawa kecil saat berbicara dengan rekan, dan sebagian lagi fokus pada layar komputer mereka. “Di sini adalah meja kamu,” ucap Bu Ratih sambil menunjukkan meja bersih dengan komputer baru dan perlengkapan kantor yang sudah disiapkan rapi. “Sebentar lagi, saya akan memperkenalkan Anda pada Pak Aldo—kepala divisi Anda. Tapi sebelum itu, ada satu orang yang juga baru mulai hari ini, sama seperti Anda.” Baru saja Kesya ingin bertanya, suara pria yang dalam terdengar dari belakang mereka. “Bu Ratih, maaf saya terlambat sebentar. Ada masalah dengan tiket kereta.” Kesya menoleh ke belakang. Pria muda dengan rambut hitam yang sedikit berantakan, mengenakan kemeja biru muda yang sedikit kusut dan celana panjang hitam berdiri di sana. Wajahnya tampak lelah namun cukup tampan, dengan alis yang tegas dan mata cokelat yang sedang melihat ke arah Bu Ratih. Namun saat matanya menyentuh wajah Kesya, ekspresinya berubah—wajahnya sedikit terkejut sebelum segera kembali normal. “Ini adalah Rafi Pratama,” kata Bu Ratih. “Rafi, ini Keshara Ayudya Prameswari. Kalian berdua akan magang di divisi Corporate Strategy selama tiga bulan ke depan.” Rafi mengangkat tangannya dengan senyum yang sedikit kaku. “Halo, Keshara. Senang bertemu denganmu.” “Senang bertemu juga, Rafi,” jawab Kesya dengan senyum ramah. Namun di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Wajah Rafi sepertinya tidak asing—seolah ia pernah melihatnya di suatu tempat, tapi tidak bisa mengingat kapan dan di mana. Bu Ratih kemudian mengajak mereka berdua untuk bertemu dengan Pak Aldo. Kepala divisi itu adalah pria berusia sekitar 40-an yang ramah dan memiliki gaya bicara yang lugas. Ia menjelaskan tentang tugas-tugas dasar yang akan mereka lakukan dan memberikan buku panduan kerja kantor. Setelah itu, Bu Ratih memberikan tugas pertama mereka: mengumpulkan data tentang perkembangan industri bisnis properti di Indonesia selama lima tahun terakhir dan membuat ringkasannya dalam bentuk laporan singkat. “Kalian bisa bekerja bersama atau terpisah, tapi hasilnya harus satu,” ucap Bu Ratih sebelum kembali ke mejanya. Kesya dan Rafi saling melihat. Rafi menghela napas lembut. “Mungkin kita bisa mulai dengan mencari data dari situs resmi pemerintah dan laporan industri terpercaya?” katanya. “Iya, itu ide bagus. Kalau bisa, kita bagi tugas saja agar lebih cepat selesai,” jawab Kesya sambil membuka komputer. Saat mereka mulai bekerja, Kesya tidak bisa tidak merasa penasaran. Rafi tampak sangat akrab dengan dunia bisnis—ia bahkan bisa menyebutkan beberapa sumber data yang tidak pernah terpikirkan oleh Kesya. Selain itu, setiap kali Rafi melihatnya, ekspresinya selalu sedikit berbeda, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan. Setelah bekerja selama hampir dua jam, Rafi berdiri perlahan. “btw, aku mau ke kantin sebentar. Mau nitip sesuatu tidak, kes? Kopi atau teh?” “Ah, tidak usah, terima kasih. Saya masih cukup dengan air putih saja,” jawab Kesya dengan senyum. Setelah Rafi pergi, Kesya melihat ke arah meja sebelahnya. Ada buku catatan yang terbuka di sana. Ia tidak sengaja melihat kalimat yang tertulis di halaman terakhir: “Hari ini saya akan bertemu dengan dia lagi. Semoga dia tidak mengenali saya.” Kesya langsung menoleh ke arah lain dengan wajah yang sedikit memerah rasa bersalah menyelimuti dirinya karena melihat catatan orang lain. Tapi pikirannya tidak bisa tidak berpikir: apa maksud Rafi dengan kalimat itu? Siapa yang dimaksud dengan “dia”? Saat Rafi kembali, ia melihat Kesya yang sedang menatap layar komputer dengan wajah yang sedikit tegang. Ia mengerutkan kening tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya meletakkan segelas air putih di mejanya. “Terima kasih,” ucap Kesya dengan suara pelan. Sebelum mereka bisa melanjutkan pekerjaan, suara Pak Aldo terdengar dari arah pintu ruangan. “Keshara, Rafi, silakan datang ke ruang rapat . Ada tamu penting yang ingin bertemu dengan kalian berdua.” Kesya dan Rafi saling melihat, keduanya sama-sama bingung. Siapa saja tamu penting yang ingin bertemu dengan dua orang magang baru? Saat mereka masuk ke ruang rapat kecil, seorang pria muda dengan jas hitam yang sangat rapi sedang berdiri di depan jendela, menatap pemandangan kota di luar sana. Ia memiliki rambut cokelat muda yang ditata rapi dan sosok yang tinggi. Saat ia menoleh, wajahnya yang tampan dengan alis yang sedikit menonjol dan mata abu-abu langsung tertuju pada Kesya. Wajah Kesya langsung memucat. “Sial,” gumamnya tidak percaya, karena wajah pria di depannya adalah sosok yang tidak mungkin ia lupakan Kevin Arvando, CEO Aurellion Group yang dulunya pernah ia temui dalam keadaan yang sangat tidak terduga... KEJADIAN DI ARENA BALAP Flashback – tiga bulan yang lalu Lampu sorot menerangi lintasan balap malam yang kumal namun penuh semangat. Suara mesin mobil yang menggelegar menggema ke segala penjuru, diselingi teriakan penonton yang antusias. Di area VIP sebelah kiri, Alex—kakak Kesya yang sebenarnya ada—berdiri dengan beberapa teman, sementara Kesya duduk di kursi khusus, memegang botol minuman tanpa alkohol sambil melihat sekeliling dengan rasa penasaran. “Kenapa kamu harus ikut sih, Dek? Kamu jelas nggak suka acara kayak gini,” ucap Alex yang baru saja kembali dari meja registrasi. “Kalau aku nggak ikut, abang bakal mabok-mabokan terus,” jawab Kesya dengan nada cemberut tapi penuh perhatian. “Papa juga bilang harus aku jaga abang.” Alex hanya tersenyum dan mengusap kepala adiknya. Saat itu, suara mesin yang lebih keras terdengar—sebuah mobil balap warna hitam mengkilap melaju dengan kecepatan luar biasa, menyusuri tikungan dengan presisi sempurna sebelum menyabet garis finish sebagai pemenang. Teriakan penonton meledak. Di atas podium kecil, pintu mobil terbuka dan seorang pria muda dengan rambut cokelat muda yang sedikit berantakan akibat angin keluar dengan gaya yang percaya diri. Ia mengenakan jaket balap hitam dengan detail emas, tanpa helm lagi sehingga wajahnya tampak jelas—Kevin Arvando. “Wow, Kevin lagi tampil hebat banget nih!” teriak salah satu teman Alex. “Dia memang terbaik di lintasan ini selain kamu, lho, Alex!” Kevin mengangkat tangan untuk menyapa penonton, senyum percaya diri terpampang di wajahnya. Namun saat matanya menyentuh arah tempat Kesya duduk, senyumnya sedikit pudar sebelum kembali seperti semula. Setelah sesi balap selesai, Alex mengajak Kesya berkeliling ke area belakang garasi. Banyak mobil balap mewah ada di sana, dan beberapa pembalap sedang berbincang atau memeriksa mesin kendaraan mereka. Tiba-tiba, Kevin muncul dari balik salah satu mobil, sekarang sudah mengganti jaket balap dengan kemeja hitam yang sedikit terbuka di bagian atas. Ia sedang bercakap dengan dua perempuan cantik yang tersenyum manis kepadanya. “Alex, ! Keren juga tadi, walaupun kalah sama gue,” ucap Kevin sambil memberikan jabat tangan kepada Alex, namun matanya tetap terpaku pada Kesya yang berdiri di sampingnya. “Kalah satu kali aja kok, besok pasti menang lagi,” jawab Alex dengan tertawa. “Oh iya, ini adik ku, Kesya. Kes, ini Kevin—pembalap terbaik seantero sini dan juga CEO Aurellion Group yang kamu dengerin itu.” Kesya sedikit terkejut mendengarnya. Ia tahu Aurellion Group adalah perusahaan besar, tapi tidak menyangka pemiliknya adalah seorang pembalap muda yang tampan seperti Kevin. Ia mengangguk sopan. “Halo, Pak Kevin.” Kevin mengangkat alisnya dengan tatapan yang sedikit berbeda. “Cukup panggil Kevin aja. Kamu baru pertama kali datang ke arena balap ya, Kesya?” “Iya, tadi pertama kalinya. Suaranya cukup bising tapi lumayan seru,” jawab Kesya dengan suara lembut, namun tidak menunjukkan rasa kagum yang berlebihan seperti perempuan lain di sekitarnya. Hal itu sepertinya menarik perhatian Kevin. Ia mendekat sedikit, membuat Kedua perempuan yang sebelumnya bercakap dengannya terlihat tidak senang. “Kalau kamu suka, lain kali aku bisa kasih tiket khusus untuk kamu. Bisa duduk di area paling depan, lihat balap lebih jelas.” “Terima kasih atas tawarannya, tapi saya mungkin tidak bisa sering datang. Saya lagi sibuk dengan persiapan magang,” jawab Kesya dengan sopan namun tegas. Alex melihat ke arah jam tangannya. “Wah, udah larut juga ya. Kita harus pulang sekarang, Kes. Nanti papa marah.” Sebelum mereka pergi, Kevin menarik lengan Kesya dengan lembut. Ia memberikan sebuah kartu nama kecil. “Jika kamu berubah pikiran atau ada yang bisa aku bantu tentang magang... kamu bisa hubungi aku.” Kesya menerima kartu dengan ragu, lalu segera meletakkannya di dalam tasnya. “Terima kasih, Pak Kevin.” Setelah mereka pergi, salah satu perempuan mendekat ke Kevin. “Siapa dia sih, Kevin? Kamu jarang begitu sama perempuan baru.” Kevin hanya tersenyum tipis sambil menatap arah Kesya yang sedang menjauh. “Cuma seseorang yang berbeda saja. Biarin aja.” Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa Kesya bukanlah perempuan biasa seperti yang biasanya ia temui di klub atau di sekitarnya. Kembali ke masa sekarang – di ruang rapat kecil Aurellion Group Kevin menyilang tangan di dadanya, tatapan matanya tetap pada Kesya. “Kesya Ayudya Prameswari. Tidak pernah terpikirkan kalau saya akan bertemu denganmu di sini.” Rafi yang berdiri di belakang Kesya mengerutkan kening. Ia melihat kesan tidak nyaman di wajah Kesya dan mencoba mendekat sedikit. “ Maaf Pak Kevin, apakah ada masalah?” Kevin tidak melihat Rafi, matanya tetap pada Kesya. “Masalah? Tidak ada masalah sama sekali. Cuma terkejut karena seseorang yang pernah menolak tawaran saya untuk datang ke arena dan magang ternyata sekarang menjadi pemagang di perusahaan ini.” Kesya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. “Mmm halo pak, Saya tidak menyangka juga akan bertemu dengan Anda di sini, Pak Kevin. Saya datang ke sini karena saya lolos seleksi magang secara adil.” “Tentu saja adil,” ucap Kevin dengan nada yang sedikit menyakitkan. “Tapi kamu tahu kan siapa aku? CEO perusahaan ini dan juga orang yang kamu temui di arena balap. Banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk bisa dekat dengan aku, tapi kamu malah berperilaku seolah aku tidak ada apa-apanya.” “Saya tidak berarti seperti itu, Pak Kevin,” jawab Kesya dengan suara yang jelas meskipun masih sedikit gemetar. “Saya hanya tidak terbiasa dengan perhatian yang berlebihan, dan saya ingin mencapai sesuatu dengan usaha saya sendiri.” Kevin menghela napas dan berjalan lebih dekat ke Kesya. Rafi ingin menghentikannya tapi dihentikan oleh tatapan Kevin yang dingin. “Kamu benar sekali. Itu yang membuat kamu berbeda dari perempuan lain. Tapi ingat ya, di perusahaan ini, aku yang memutuskan segala sesuatu. Jangan harap aku akan memberikan perlakuan khusus hanya karena kita pernah bertemu.” “Tidak ada yang saya harapkan dari Anda selain perlakuan yang sama dengan magang lain, Pak Kevin,” jawab Kesya dengan lebih tegas. Kevin tersenyum tipis tapi tanpa rasa hangat. “Baiklah. Itu saja yang saya ingin sampaikan. Sekarang kalian bisa kembali bekerja. Rafi, saya akan memantau kemajuan kalian berdua khususnya. Jangan mengecewakan saya.” Tanpa menunggu jawaban, Kevin berbalik dan keluar dari ruang rapat. Kesya akhirnya bisa bernapas lega, sementara Rafi melihatnya dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran dan rasa penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN